Mengapa Kebanyakan Pria Memilih Diam saat Hadapi Masalah?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di balik tuntutan untuk selalu terlihat kuat, banyak pria justru menyimpan beban mental yang tidak terlihat. Dalam hal ini, pria cenderung lebih jarang membicarakan kondisi emosionalnya, bahkan saat berada dalam tekanan berat.

Dalam kajian psikologi klinis, kecenderungan ini dikaitkan dengan konstruksi sosial tentang maskulinitas. Sejak usia dini, banyak pria dibentuk untuk menahan emosi dan menghindari ekspresi kerentanan. Akibatnya, muncul pola coping yang lebih tertutup dibandingkan perempuan.

- Advertisement -

Data dari World Health Organization menunjukkan bahwa meskipun perempuan lebih sering didiagnosis mengalami depresi, tingkat bunuh diri pada pria justru lebih tinggi di banyak negara. Salah satu faktor utamanya adalah keterlambatan dalam mencari bantuan profesional.

Di Indonesia, situasi serupa juga mulai mendapat perhatian. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat bahwa kesadaran terhadap kesehatan mental memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, namun stigma masih menjadi hambatan utama, khususnya di kalangan pria dewasa.

- Advertisement -

Selain faktor budaya, tekanan ekonomi dan pekerjaan turut memperparah kondisi. Pria sering kali diposisikan sebagai penopang utama keluarga, sehingga kegagalan finansial atau tekanan karier dapat berdampak langsung pada kondisi psikologis. Ironisnya, tekanan ini jarang diungkapkan secara terbuka.

Studi dalam psikologi sosial juga menunjukkan bahwa pria lebih cenderung mengekspresikan stres melalui perilaku non-verbal, seperti kemarahan, penarikan diri, atau bahkan kebiasaan tidak sehat seperti konsumsi alkohol berlebihan. Pola ini membuat masalah mental menjadi sulit terdeteksi sejak dini.

Padahal, akses terhadap bantuan kini semakin terbuka. Layanan konseling, komunitas dukungan, hingga platform digital kesehatan mental mulai berkembang dan menawarkan ruang aman bagi siapa saja, termasuk pria. Namun, tantangan utamanya tetap pada keberanian untuk memulai percakapan.

Perubahan mulai terlihat di kalangan generasi muda. Narasi tentang kesehatan mental perlahan bergeser dari tabu menjadi topik yang lebih terbuka untuk dibahas. Media sosial dan figur publik juga berperan dalam mendorong diskusi yang lebih inklusif, meski belum sepenuhnya menghapus stigma.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru