HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah maraknya tren perawatan diri, satu pertanyaan masih relevan yakni mengapa banyak pria tetap menjauh dari skincare? Padahal, dari sisi kesehatan, kulit pria memiliki kebutuhan yang sama pentingnya dengan wanita. Bahkan dalam beberapa aspek, justru lebih kompleks.
Dalam kajian dermatologi, kulit pria diketahui cenderung lebih tebal, berminyak, dan memiliki pori-pori lebih besar dibandingkan wanita. Produksi sebum yang lebih tinggi ini dipengaruhi oleh hormon androgen, yang membuat pria lebih rentan terhadap jerawat, komedo, dan peradangan kulit.
Namun, rendahnya minat pria terhadap skincare bukan semata soal kebutuhan, melainkan persepsi. Survei global yang dirilis oleh YouGov menunjukkan bahwa sebagian pria masih menganggap perawatan kulit sebagai aktivitas yang identik dengan perempuan. Stigma ini membuat banyak pria enggan memulai, meski menyadari manfaatnya.
Padahal, dari sisi kesehatan, paparan sinar ultraviolet menjadi ancaman nyata. Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa paparan UV berlebih dapat meningkatkan risiko penuaan dini hingga kanker kulit. Tanpa perlindungan seperti sunscreen, kulit pria yang sering beraktivitas di luar ruangan justru berada dalam risiko lebih tinggi.
Di sisi lain, perkembangan industri grooming menunjukkan perubahan tren yang cukup signifikan. Laporan dari L’Oréal mencatat peningkatan minat terhadap produk perawatan pria dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan generasi muda. Produk seperti facial wash, moisturizer, hingga sunscreen kini mulai diterima sebagai kebutuhan dasar, bukan lagi sekadar pelengkap.
Faktor lain yang memengaruhi adalah kurangnya edukasi yang sederhana dan relevan. Banyak pria menganggap skincare sebagai rutinitas yang rumit dan memakan waktu, padahal secara praktis, perawatan dasar bisa dimulai dari tiga langkah, yakni membersihkan wajah, melembapkan, dan melindungi dari sinar matahari.
Dari sisi psikologis, perawatan diri juga berkaitan dengan kepercayaan diri. Studi dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa individu yang merasa nyaman dengan penampilannya cenderung memiliki tingkat self-esteem yang lebih baik, yang berdampak pada performa kerja dan interaksi sosial.
Fenomena ini menandai pergeseran definisi maskulinitas. Pria modern tidak lagi terikat pada stereotip lama yang menolak perawatan diri. Justru, kesadaran untuk menjaga kesehatan kulit menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

