HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa pemerintahannya menerima panggilan dari Iran pada Senin (13/4) pagi waktu setempat. Ia menilai Teheran menunjukkan keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan di tengah konflik yang masih berlangsung.
Trump menyebut komunikasi tersebut menjadi sinyal bahwa kedua pihak masih membuka peluang diplomasi, meski situasi di lapangan tetap tegang.
“Saya bisa mengatakan bahwa kami telah dihubungi oleh pihak lain. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan, sangat ingin. Ini soal nuklir. Ini soal fakta bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujarnya, dikutip Holopis.com, Selasa (15/4).
Ia menegaskan bahwa isu utama dalam negosiasi adalah komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Trump bahkan menyatakan keyakinannya bahwa Iran pada akhirnya akan menyetujui poin tersebut.
“Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Kami telah menyetujui banyak hal, tetapi mereka belum menyetujui itu. Saya pikir mereka akan menyetujuinya. Jika tidak, maka tidak akan pernah ada kesepakatan,” lanjutnya.
Meski demikian, Trump belum memastikan apakah akan ada putaran pembicaraan lanjutan sebelum masa gencatan senjata berakhir pada 21 April. Sejumlah laporan media menyebut kedua negara masih membuka kemungkinan untuk melanjutkan dialog.
Seorang pejabat AS juga menyampaikan bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung. Upaya diplomasi terus dilakukan untuk mencari jalan keluar dari konflik yang memanas.
Mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turkiye disebut aktif mendorong kedua pihak kembali ke meja perundingan. Upaya ini dilakukan guna mencegah eskalasi lebih lanjut sebelum tenggat gencatan senjata berakhir.
“Kami belum berada dalam kebuntuan total. Pintu belum tertutup. Kedua pihak masih bernegosiasi. Ini seperti pasar,” ujar salah satu sumber regional.
Di sisi lain, terdapat perbedaan kepentingan yang masih menjadi hambatan. Amerika Serikat disebut mendorong Iran untuk menghentikan pengayaan uranium, sementara Iran menginginkan pencairan dana yang dibekukan serta pelonggaran sanksi.
Diplomasi intensif juga dilakukan melalui jalur komunikasi antarnegara. Menteri luar negeri Turkiye dan Mesir diketahui telah berkoordinasi dengan Pakistan, serta berkomunikasi dengan utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi.
Pernyataan Trump ini disampaikan hanya beberapa jam setelah militer AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran. Ia juga sebelumnya mengancam akan menghancurkan kapal Iran yang mendekati blokade di Selat Hormuz.
Donald Trump turut mengklaim bahwa aktivitas kapal di Selat Hormuz meningkat signifikan. Namun, data dari perusahaan pelacakan maritim menunjukkan angka yang lebih rendah dari klaim tersebut. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan militer masih menjadi bagian dari strategi negosiasi AS, di tengah upaya diplomatik yang terus berjalan untuk meredakan konflik.

