HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi bertolak ke Amerika Serikat untuk melakukan pertemuan penting dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Kunjungan ini menjadi sorotan karena berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan global, khususnya konflik di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya sebelum keberangkatan, Takaichi menekankan pentingnya menjaga stabilitas global, terutama terkait keamanan jalur energi di Selat Hormuz.
Dilansir Holopis.com dari Kyodo News, Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (19/3/2026) akan membahas berbagai isu strategis, mulai dari keamanan hingga kerja sama ekonomi. Salah satu fokus utama adalah memperkuat aliansi Jepang-AS di tengah meningkatnya pengaruh China di kawasan.
Dalam kerja sama ekonomi, kedua negara diperkirakan akan menegaskan kembali kesepakatan besar yang telah dicapai sebelumnya. Jepang berkomitmen menginvestasikan sekitar 550 miliar dolar AS di sektor strategis di Amerika Serikat, seperti energi, semikonduktor, dan mineral penting.
Tak hanya itu, paket investasi baru senilai hingga 10 triliun yen atau sekitar 63 miliar dolar AS juga berpotensi diumumkan dalam pertemuan tersebut.
Kunjungan ini juga menjadi yang pertama bagi Takaichi sejak menjabat sebagai perdana menteri pada Oktober lalu, sekaligus perjalanan luar negeri pertamanya setelah kemenangan besar partainya dalam pemilu parlemen Februari.
Namun, di balik agenda tersebut, Jepang menghadapi dilema terkait permintaan AS untuk mengirim kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz. Permintaan ini sensitif karena konstitusi Jepang membatasi keterlibatan militernya di luar negeri.
Di sisi lain, situasi di kawasan semakin memanas setelah Iran dilaporkan memblokir sebagian jalur di Selat Hormuz sebagai respons atas serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel.
Bagi Jepang, kondisi ini sangat krusial mengingat lebih dari 90 persen impor minyaknya berasal dari Timur Tengah dan melewati jalur tersebut.
Selain isu keamanan, pertemuan ini juga akan membahas kerja sama teknologi seperti kecerdasan buatan dan rantai pasok mineral penting.
Dengan situasi global yang tidak menentu, pertemuan Takaichi dan Trump diharapkan mampu memperkuat kerja sama kedua negara sekaligus menjaga stabilitas dunia.


