HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kematian anak usia di bawah lima tahun di seluruh dunia mengalami penurunan signifikan sejak tahun 2000. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mencatat angka tersebut telah turun lebih dari setengah dalam dua dekade terakhir.
“Demi mempercepat kemajuan dan menyelamatkan nyawa, UNICEF menyerukan kepada pemerintah, donor, dan mitra untuk menjadikan kelangsungan hidup anak sebagai prioritas politik dan pendanaan,” kata Farhan Haq, wakil juru bicara sekretaris jenderal PBB, dikutip Holopis.com, Kamis (19/3).
Seruan tersebut muncul di tengah laporan terbaru berjudul Levels & Trends in Child Mortality yang dirilis pada Rabu (18/3). Laporan itu menunjukkan bahwa laju penurunan angka kematian anak kini mengalami perlambatan signifikan.
“Untuk fokus pada mereka yang berisiko paling tinggi, memperkuat akuntabilitas, dan berinvestasi dalam sistem perawatan kesehatan primer,” lanjutnya.
Sejak 2015, kecepatan penurunan angka kematian anak tercatat melambat lebih dari 60 persen. Kondisi ini menjadi perhatian karena berpotensi menghambat upaya global dalam menekan angka kematian anak.
Pada 2024, diperkirakan sebanyak 4,9 juta anak meninggal sebelum mencapai usia lima tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,3 juta merupakan bayi baru lahir. Sebagian besar kematian ini sebenarnya dapat dicegah melalui intervensi sederhana serta akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.
Laporan tersebut juga menyoroti tingginya angka kematian pada bayi baru lahir. Hampir setengah dari total kematian anak balita terjadi pada fase ini, yang menunjukkan masih lambatnya kemajuan dalam penanganan kesehatan di sekitar masa kelahiran.
Komplikasi akibat kelahiran prematur dan masalah saat persalinan menjadi penyebab utama kematian bayi baru lahir. Selain itu, infeksi seperti sepsis neonatal serta kelainan bawaan juga menjadi faktor penting yang berkontribusi.
Untuk pertama kalinya, laporan ini turut mengungkap data kematian akibat malanutrisi akut parah. Pada 2024, lebih dari 100.000 anak usia satu hingga 59 bulan dilaporkan meninggal akibat kondisi tersebut.
Dari sisi geografis, kematian anak masih terkonsentrasi di wilayah tertentu. Afrika sub-Sahara menyumbang 58 persen dari total kematian anak balita, sementara Asia Selatan berada di posisi berikutnya dengan kontribusi sebesar 25 persen.
Upaya percepatan penanganan dinilai penting agar tren penurunan angka kematian anak dapat kembali meningkat. Tanpa langkah konkret, jutaan anak masih berisiko kehilangan nyawa akibat penyebab yang sebenarnya bisa dicegah.


