HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan negaranya siap terus melanjutkan serangan rudal terhadap Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Barat selama masih diperlukan. Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, PBS News, yang disiarkan pada Selasa (10/3).
Ia mengatakan serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas rudal Iran tidak berhasil menghentikan serangan balasan dari pihak Iran.
“Iran akan terus melakukannya selama diperlukan dan selama yang dibutuhkan,” kata Araghchi, dikutip Holopis.com, Rabu (11/3).
Araghchi juga menilai AS dan Israel tidak memiliki strategi akhir yang jelas dalam konflik tersebut.
“Mereka baru saja mulai menyerang kami secara membabi buta dan menargetkan kawasan permukiman, rumah sakit, sekolah, serta infrastruktur, yang merupakan langkah yang sangat berbahaya,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, Araghchi juga menyinggung penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan keberlanjutan kebijakan Iran yang selama ini menentang Amerika Serikat dan Israel sekaligus menegaskan stabilitas politik di negaranya.
Ia juga menegaskan bahwa melanjutkan kembali perundingan dengan Amerika Serikat bukan menjadi pilihan bagi Iran. Araghchi menyebut pengalaman sebelumnya dalam bernegosiasi dengan Washington sebagai pengalaman yang pahit.
“Saya tidak merasa hal itu akan menjadi bagian dari agenda kami lagi,” ujarnya.
Terkait lonjakan harga energi global, Araghchi menilai hal tersebut dipicu oleh terganggunya produksi dan distribusi minyak di kawasan akibat serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran. Meski demikian, ia menegaskan Iran tidak menutup Selat Hormuz maupun menghalangi jalur pelayaran di kawasan tersebut.
“Iran tidak menutup Selat Hormuz dan tidak menghalangi navigasi melintasi selat tersebut,” kata Araghchi.
Seperti diketahui, pada 28 Februari lalu Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Konflik tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi global, terutama terkait potensi gangguan terhadap ekspor minyak melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan energi dunia.
Pernyataan Araghchi ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (9/3) menyebut serangan militer AS dan Israel terhadap Iran akan segera berakhir.



