HOLOPIS.COM, JAKARTA – Diskusi daring Imajinesia#11 yang digelar pada 9 Maret 2026 membahas strategi ekonomi politik kelas pekerja dalam menghadapi eskalasi konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Diskusi tersebut menghadirkan ekonom Dipo Satria Ramli, Deputi Departemen Ideologi Partai Buruh Hizkia Yosie Polimpung, serta perwakilan Suara Marsinah–Partai Buruh Anindya Sabrina.
Dalam diskusi tersebut, Dipo Satria Ramli menilai konflik militer di kawasan Timur Tengah telah menekan kemampuan ekonomi masyarakat, terutama kelas pekerja. Ia menyebutkan kenaikan biaya energi seperti bahan bakar minyak serta pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi nasional dan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Tren daya beli menurun, banyak calon kelas menengah turun ke kelas rentan. Ini berarti akan semakin banyak orang miskin,” kata Dipo, Selasa (10/3/2026).
Ia juga menilai pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 5 persen belum mencerminkan kondisi riil masyarakat, karena sekitar 195 juta penduduk Indonesia masih berpendapatan di bawah Rp1,5 juta per bulan. Menurutnya, inflasi turut menggerus daya beli masyarakat.
Dipo menyarankan pemerintah mempertimbangkan pengalihan sebagian anggaran dari sejumlah program prioritas, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), untuk meningkatkan belanja subsidi energi. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi sinyal bahwa pemerintah merespons tekanan ekonomi yang dialami masyarakat.
Sementara itu, Hizkia Yosie Polimpung menilai konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat juga berkaitan dengan upaya memperkuat posisi dolar di tengah meningkatnya tren dedolarisasi. Ia mengatakan sejumlah penelitian menunjukkan nilai dolar cenderung menguat dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, karena investor memindahkan aset ke instrumen yang dianggap aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury Bonds.
“Bagaimana membuat nilai Treasury Bonds aman? Cara pemerintah Donald Trump adalah dengan menggalakkan penaklukan militer seperti yang berjalan saat ini,” ujarnya.
Yosie juga menyebut adanya wacana yang menempatkan figur politik sebagai penopang kepercayaan terhadap dolar, yang menurutnya berpotensi menggeser peran bank sentral dalam kebijakan moneter Amerika Serikat.
Perwakilan Suara Marsinah–Partai Buruh Anindya Sabrina menyatakan kelas pekerja perlu memahami dampak konflik geopolitik terhadap kehidupan sehari-hari. Ia menilai serikat pekerja dan Partai Buruh dapat mendorong berbagai solusi kebijakan untuk melindungi masyarakat.
Menurut Anindya, Partai Buruh perlu mendukung upaya deeskalasi konflik dan mendorong pihak-pihak yang bertikai kembali ke meja perundingan melalui jalur parlemen maupun gerakan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan terhadap hukum internasional serta perancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mampu melindungi kondisi sosial masyarakat.
Anindya menambahkan sejumlah kebijakan domestik yang dapat didorong antara lain mempertahankan anggaran jaring pengaman sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan bantuan langsung tunai. Selain itu, ia mengusulkan kebijakan cadangan strategis berupa subsidi jangka pendek yang terukur serta penguatan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui insentif fiskal untuk menjaga rantai pasok domestik.
Di luar jalur parlemen, ia juga mengusulkan pembangunan rantai pasok melalui koperasi serikat pekerja, pembentukan dana solidaritas bagi pekerja yang terkena PHK, serta pengembangan lumbung pangan di kawasan industri untuk memperkuat ketahanan ekonomi komunitas pekerja.


