HOLOPIS.COM, JAKARTA – Militer Israel menyatakan sekitar 1.900 tentara dan komandan Iran telah tewas sejak dimulainya konflik antara kedua negara. Hal tersebut disampaikan juru bicara militer Israel, Effie Defrin, dalam konferensi pers pada Senin (9/3). Dalam keterangannya, Defrin juga menyebut Israel tidak menutup kemungkinan menargetkan pemimpin tertinggi Iran yang baru diumumkan.
“Siapa pun yang menimbulkan ancaman akan disasar,” kata Defrin saat ditanya mengenai kemungkinan Israel menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dikutip Holopis.com, Selasa (10/3).
Defrin juga mengonfirmasi bahwa satu orang tewas pada Senin pagi akibat serangan rudal Iran di wilayah Israel. Dengan tambahan tersebut, jumlah korban tewas akibat serangan Iran di Israel tercatat mencapai 12 warga sipil. Selain itu, dua tentara Israel juga dilaporkan tewas dalam pertempuran dengan militan Hizbullah di Lebanon.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Israel menyebut sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, sebanyak 2.238 orang di Israel telah dilarikan ke rumah sakit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 91 orang masih menjalani perawatan medis.
Defrin mengatakan angkatan udara Israel juga terus melanjutkan operasi militernya pada Senin dengan melakukan serangan di beberapa wilayah Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan wilayah selatan negara tersebut. Ia juga menyebut pesawat tempur Israel telah menyerang enam pangkalan udara militer Iran sejak konflik dimulai.
Menurut Defrin, serangan tersebut juga menargetkan armada pesawat transportasi milik Pasukan Quds yang disebut digunakan untuk mengirim senjata dan dana kepada sekutu Iran di kawasan. Dalam operasi tersebut, Israel mengklaim telah menghancurkan 16 pesawat kargo.
Selain di Iran, serangan udara Israel juga dilaporkan berlanjut di Beirut, Lebanon. Defrin menyatakan militer Israel menargetkan 35 gedung tinggi yang disebut digunakan oleh Hizbullah.
Ia menambahkan lebih dari 700 lokasi yang dikaitkan dengan Hizbullah telah diserang di Lebanon sejak konflik meningkat. Menurut Defrin, operasi militer Israel akan terus berlanjut selama dianggap masih diperlukan.


