HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya angkat bicara setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menuai kecaman internasional. Ben-Gvir dikecam luas karena kelakuannya terhadao aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan usai mencoba menembus blokade Gaza.
Ben-Gvir membuat geger dunia karena mengunggah sejumlah video yang memperlihatkan para aktivis ditahan dengan tangan terikat di belakang tubuh mereka. Dalam rekaman itu, sejumlah aktivis tampak dipaksa berlutut dengan kepala menyentuh lantai di area yang diduga lokasi penahanan sementara dan dek kapal.
Terkait itu, Netanyahu mengklaim Israel memiliki hak untuk menghentikan armada provokatif pendukung Hamas. Namun, ia menilai cara Ben-Gvir memperlakukan para aktivis tidak mencerminkan standar yang seharusnya dijaga Israel.
“Cara penanganan para aktivis tersebut tidak sesuai dengan nilai dan norma Israel,” kata Netanyahu dikutip dari AP, Kamis, (21/5/2026).
Dalam salah satu video, Ben-Gvir terlihat berjalan di antara sekitar 430 tahanan sambil membawa bendera Israel berukuran besar. “Selamat datang di Israel, kami adalah tuan tanahnya,” ujar Ben-Gvir dalam video tersebut.
Situasi memanas saat seorang aktivis wanita yang diikat tangannya meneriakkan ‘Bebaskan Palestina.’ Aktivis wanita itu ditarik dan kemudian didorong ke lantai oleh petugas keamanan saat Ben-Gvir melintas.
Video lain menunjukkan Ben-Gvir mengejek para aktivis yang sebelumnya datang dengan penuh percaya diri.
“Mereka datang ke sini dengan penuh kebanggaan seperti pahlawan besar. Lihatlah mereka sekarang,” kata Ben-Gvir.
Ia juga sudah meminta Netanyahu agar para aktivis dipenjara dalam waktu lama. “Saya katakan kepada Perdana Menteri Netanyahu, serahkan mereka kepada saya untuk waktu yang sangat lama, serahkan mereka kepada kami untuk penjara teroris,” ujarnya.
Meski demikian, Netanyahu memilih langkah berbeda dengan memerintahkan agar para aktivis segera dideportasi.
“Saya telah memberi instruksi agar mereka dideportasi sesegera mungkin,” kata Netanyahu.
Kontroversi ini memicu keretakan di internal pemerintahan Israel. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar secara terbuka mengecam aksi Ben-Gvir melalui media sosial X.
“Anda dengan sengaja menyebabkan kerugian bagi negara kita dalam pertunjukan yang memalukan ini,” tulis Saar.
Ia juga menambahkan kelakuan Ben-Gvir bukan memperlihatkan wajah Israel. “Tidak, Anda bukanlah wajah Israel,” tutur Saar.
Ben-Gvir langsung membalas kritik tersebut di parlemen Israel. Ia menuduh Saar tunduk kepada teroris dan menyebut kritik terhadap dirinya hanya menunjukkan kelemahan Israel.
Kecaman juga datang dari kelompok advokasi hukum Adalah. Organisasi itu menuduh otoritas Israel melakukan pelecehan dan penghinaan terhadap para aktivis flotilla.
Adalah menyebut perlakuan tersebut merupakan pola berulang dalam berbagai misi armada Gaza sebelumnya tanpa adanya pertanggungjawaban dari Israel.
Pengacara Adalah, Suhad Bishara, mengatakan sedikitnya dua aktivis harus dirawat di rumah sakit setelah terkena tembakan peluru karet.
“Mereka ditembak tanpa alasan dan tanpa pembenaran apa pun,” kata Bishara kepada AP.
Gelombang kecaman internasional pun terus bermunculan. Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper menyebut video tersebut melanggar standar dasar penghormatan terhadap martabat manusia.
Italia bahkan memanggil duta besar Israel di Roma dan menyebut video Ben-Gvir sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima.”
Kanada juga memanggil duta besar Israel di Ottawa, sementara Turki menilai perlakuan terhadap para aktivis menunjukkan “pola pikir kekerasan dan biadab” pemerintahan Israel.
Yunani turut melayangkan protes resmi dan menyebut tindakan Ben-Gvir sepenuhnya tidak dapat diterima.



