HOLOPIS.COM, JAKARTA – Duta Besar RI untuk Iran periode 2012–2016, Dian Wirengjurit, menilai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai kehilangan besar, namun menegaskan sistem ketatanegaraan Iran tetap stabil.
“Ini kehilangan besar. Saya pribadi beberapa kali bertemu beliau. Namun, Iran memiliki sistem ketatanegaraan yang jelas. Penggantian pemimpin tertinggi dilakukan oleh Dewan Ahli yang terdiri dari ulama senior,” kata Dian dalam sebuah wawancara televisi yang dikutip redaksi di Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Khamenei meninggal di tengah laporan serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang diklaim menargetkan fasilitas nuklir Iran. Serangan tersebut juga dilaporkan mengenai sekolah dan bangunan warga sipil, menewaskan sedikitnya 115 orang dan melukai 95 lainnya. Di Provinsi Hormozgan, puluhan korban tewas akibat serangan yang menghanguskan sejumlah sekolah dan bangunan.
Dian menegaskan bahwa wafatnya Khamenei tidak otomatis menggugurkan sistem negara Islam Iran. Garda Revolusi dan angkatan bersenjata disebut tetap siaga, sehingga yang lebih mungkin terjadi adalah pengukuhan rezim, bukan pergantian rezim.
“Perang bahkan bisa berlangsung lebih lama karena faktor emosional dan simbolik,” ujarnya.
Dian juga menyoroti kemungkinan reaksi negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab yang dinilai akan lebih berhati-hati dalam mengambil langkah. Ia menegaskan eskalasi yang terjadi dipicu intervensi eksternal, bukan invasi langsung Iran terhadap negara tetangganya.
Iran sebelumnya hanya memiliki dua pemimpin tertinggi sepanjang sejarahnya, yakni Ayatullah Khomeini sejak Revolusi 1979 dan Ayatullah Khamenei sejak 1989.

