HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pihak Istana menanggapi hasil pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming yang akan segera memasuki satu tahun bertugas.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi pun menjawab bahwa pemerintah tidak menjadikan durasi masa bertugas sebagai patokan target.
“Kita nggak ada patokan satu tahun, nggak ada patokan enam bulan. Patokannya adalah programnya apa, sudah dikerjakan belum, ada kendala nggak, kalau ada kendala bagaimana kita cari jalan keluar,” kata Prasetyo dalam pernyataannya pada Jumat (17/10).
Meski hingga saat ini pemerintah terus bekerja untuk menjalankan program yang bermanfaat untuk rakyat, Pras mengakui masih banyak kekurangan yang terus dikejar pemerintah.
“Jadi nggak ada patokan waktunya. Dan terus terang kita merasa memang belum puas,” ujarnya.
Prasetyo kemudian turut membahas terkait bongkar pasang atau perubahan nomenklatur kementerian yang beberapa kali dilakukan Prabowo selama satu tahun menjabat.
Pras menepis anggapan bahwa perubahan nomenklatur itu fase di mana pemerintah masih mencari kekuatan.
“Kan dalam perjalanannya itu kan selalu tidak mungkin suatu perencanaan sejak awal itu sudah terlihat sempurna atau sudah digambarkan sempurna. Nah dalam perjalanannya kan kita menemukan bahwa, oh di sektor ini kita butuh perkuatan, oh di sektor ini terlalu besar kita butuh perampingan,” jelasnya.
Pras menekankan pada dasarnya penyempurnaan dan perbaikan terus dilakukan seiring berjalannya waktu. Ia mengambil contoh pondok pesantren yang ternyata banyak yang tidak memiliki izin bangunan, sehingga pemerintah membentuk direktorat khusus menangani masalah tersebut.
“Contohnya, kita menemukan hampir sebagian besar pondok pesantren tidak memiliki izin bangunan. Kita lalai selama ini. Ya masak kemudian nggak boleh kita menambah satu direktorat khusus menangani masalah pondok pesantren dari sisi keamanan bangunan?” ujarnya.
Pras ingin semua pihak melihat secara subtansif. Menurutnya, pembenahan hal yang wajar dan akan terus dilakukan untuk ke depan.
“Jadi cara berpikirnya itu adalah substantif, bukan kok kenapa sekarang tambah ini, seolah-olah seperti tidak ada perencanaan. Bagaimana kan sejak awal merencanakannya kita anggap sudah ideal, tapi dalam perjalanannya di sini masih butuh pembenahan,” tuturnya.
“Ibarat pemain bola, kita merasa sudah main jago semua. Ya latihan setiap hari belum tentu menang, begitu main ternyata kita harus lakukan perubahan, kita janji,” sambungnya.

