JAKARTA, Holopis.com – ChatGPT, Gemini, atau Grok, siapa yang paling jenius dalam AI? Simak hasil tes IQ terbaru 2026 yang mengungkap perbandingan kecerdasan mereka secara mengejutkan.
Persaingan kecerdasan buatan (AI) global semakin panas di tahun 2026.
Tidak lagi sekadar soal kecepatan menjawab atau kemampuan membuat teks dan gambar, kini performa AI juga mulai diuji lewat pendekatan “skor IQ” berbasis tes penalaran visual.
Berdasarkan laporan pemantauan AI TrackingAI dua model AI tercatat menempati posisi puncak sebagai yang paling “cerdas” dalam pengujian terbaru: Grok-4.20 Expert Mode (Vision) milik xAI dan OpenAI GPT-5.4 Pro (Vision).
Keduanya sama-sama meraih skor IQ 145, angka yang dalam skala umum jauh melampaui rata-rata manusia yang berada di kisaran 100.
Skor 130 ke atas sendiri biasanya sudah dikategorikan sebagai “gifted” atau jenius.
Di bawah keduanya, posisi ketiga ditempati Google Gemini 3.1 Pro Preview (Vision) dengan skor 141, disusul OpenAI GPT-5.4 Thinking (Vision) di angka 139, serta OpenAI GPT-5.3 dengan skor 136.
Hasil ini memperkuat persaingan tiga nama besar di industri AI yaitu ChatGPT (OpenAI), Gemini (Google), dan Grok (xAI).
Ketiganya kini saling kejar dalam pengembangan model berbasis penalaran (reasoning) dan kemampuan visual.
Sementara model lain seperti Claude 4.6 Opus mencatat skor sekitar 130, DeepSeek R1 di angka 112, dan Perplexity berada di bawah 100.
TrackingAI menggunakan Mensa Norway IQ Test, sebuah tes berbasis pengenalan pola visual yang terdiri dari 35 soal.
AI diminta menganalisis hubungan bentuk, simbol, dan urutan gambar untuk menemukan jawaban yang tepat.
Model AI dengan kemampuan vision mendapatkan soal dalam bentuk gambar langsung, sementara model non-vision hanya menerima deskripsi teks dari gambar tersebut.
Kondisi ini membuat model berbasis visual cenderung memperoleh skor lebih tinggi.
Laporan tersebut juga mencatat lonjakan signifikan kemampuan AI.
Jika pada 2025 skor tertinggi masih berada di kisaran 135, maka pada 2026 angka itu naik menjadi 145.
Kenaikan ini menunjukkan perkembangan cepat dalam kemampuan penalaran mesin, terutama dalam tugas berbasis logika dan pola.
Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa skor IQ bukan ukuran mutlak kecerdasan AI.
Tes ini tidak mencakup aspek penting lain seperti kemampuan menulis kode kompleks, akurasi informasi, kreativitas, hingga kemampuan penggunaan alat (tools) dalam dunia nyata.
Meski skor IQ AI kini melampaui manusia dalam beberapa pengujian, para ahli mengingatkan bahwa hal tersebut tidak serta-merta menjadikan satu model lebih baik dari yang lain.
AI dengan skor tinggi belum tentu paling efektif untuk kebutuhan sehari-hari pengguna, seperti menulis, coding, riset, atau pekerjaan profesional lainnya.
Dengan demikian, pertanyaan “ChatGPT, Gemini, atau Grok, siapa yang paling jenius?” tidak memiliki jawaban tunggal.
Masing-masing model memiliki kekuatan berbeda tergantung pada tugas yang diberikan.
Namun satu hal yang pasti, kompetisi AI global kini semakin ketat, dan batas kemampuan mesin terus bergerak naik dari tahun ke tahun.

