Trump Larang Harvard Terima Mahasiswa Asing, Bagaimana Nasib Siswa Indonesia?

0 Shares

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi melarang Universitas Harvard untuk menerima mahasiswa internasional pada hari ini, Jum’at (23/5). Sementara itu, Indonesia merupakan salah satu negara yang kerap kali mengirimkan mahasiswa ke AS melalui beasiswa.

Terkait bagaimana dampaknya terhadap terhadap mahasiswa internasional dan apakah kebijakan ini benar-benar bisa diakukan, Pengamat Hubungan Internasional Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa segala kemungkinan masih bisa terjadi, belum lagi akan adanya pergejolakan dari masyarakat Indonesia.

“Tapi ya kita lihat ya, mungkin aja terjadi pergejolakan di Amerika Serikat, yang kemudian kan sekarang banyak demo dari rakyatnya,” kata Hikmahanton saat dihubungi Holopis.com, Jum’at (23/5).

Hikmahanto juga tidak menutup kemungkinan pemakzulan terhadap Donald Trump, akibat kebijakan-kebijakannya yang dinilai berbagai pihak tidak berdasar.

“Kita lihat saja Trump itu akan di-impeach atau nggak,” lanjutnya.

Gertakan Serius Karena Kekesalan Donald Trump Terhadap Universitas Harvard

Donald Trump dinilai tidak suka dengan Harvard karena menganggap salah satu universitas terbaik dunia itu kerap kali tidak mendukung kebijakannya, dan dituding menyuarakan antisemitisme yang tidak pro terhadap Israel.

- Advertisement -

“Donald Trump itu tidak suka dengan Harvard yang melawan kebijakannya, (meminta) universitas untuk tidak menyuarakan antisemistisme, menentang Israel. Apalagi mahasiswa sudah banyak bepihak ke Palestina. Mahasiswa-mahasiswa itu menganggap ini genosida,” kata Hikmahanto.

Karena Harvard tak juga menuruti Donald Trump, akhirnya subsidi yang biasanya diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat kemudian dibatasi. Namun hal tersebut tak juga membuat Harvard ciut, dan melawan kebijakan Donald Trump yang dinilai tidak masuk akal.

“Tapi itu juga dilawan (oleh Harvard), sekarang sedang diproses di pengadilan. Harvard tetap masih keras pokoknya kita lawan terus,” lanjut Hikmahanto.

Padahal, Hikmahanto menjelaskan bahwa mahasiswa internasional adalah salah satu tumpuan utama universitas-universitas di Amerika Serikat, karena biaya kuliah yang lebih mahal untuk mahasiswa asing, belum lagi tak semua masyarakat Amerika yang mau kuliah di universitas.

Pemerintah AS Tuding Harvard Kerja Sama dengan Tiongkok

Usut punya usut, ternyata Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem menuding Universitas Harvard bekerja sama dengan Partai Komunis Tiongkok untuk mendorong antisemitisme.

“Mendorong kekuasaan antisemitisme, dan berkoordinasi dengan Partai Komunis Tiongkok,” kata Kristi Noem.

Kristi Noem kemudian memerintahkan departemennya untuk menghentikan sertifikasi Program Mahasiswa dan Pengunjung Pertukaran Universitas Harvard.

Sebagai informasi, Universitas Harvard telah menerima hampir 6.800 mahasiswa internasional di tahun 2024 hingga 2025. Jumlah tersebut mencapai 27% dari jumlah penerimaan mahasiswa secara keseluruhan.

Di tahun 2022, mahasiswa dari Tiongkok menjadi populasi terbesar mahasiswa asing di Amerika Serikat. Diikuti dengan Kanada, India, Korea Selatan, Inggris, Jerman, Australia, Singapura, dan Jepang.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU