Sepanjang Oktober 2026, produksi co-processed SAF mencapai sekitar 11 juta liter.
Angka itu merupakan total produksi SAF melalui proses pengolahan bersama, bukan 11 juta liter minyak jelantah murni.
Pemanfaatan teknologi kilang yang tersedia memungkinkan Pertamina mengembangkan bahan bakar berkelanjutan tanpa hanya bergantung pada pembangunan fasilitas baru.
Untuk mendukung ketersediaan bahan baku, Pertamina Patra Niaga melibatkan masyarakat melalui program Community, Involvement and Development (CID).
Pengumpulan minyak jelantah dilakukan melalui bank sampah binaan dan fasilitas penampungan yang mudah dijangkau warga.
Di sekitar Kilang Cilacap, terdapat tiga bank sampah yang terlibat, yaitu Bank Sampah Beo Asri, Bank Sampah Abhipraya, dan Bank Sampah Cahaya Asri.
Ketiganya masing-masing mengumpulkan 2.283 liter, 984 liter, dan 717 liter minyak jelantah per tahun.
Total pengumpulan ketiga bank sampah tersebut mencapai 3.984 liter setiap tahun.
Warga juga dapat menyetorkan minyak jelantah melalui Collection Box Jelantah di Pasar Amarta Kutawaru.
Pertamina turut menyediakan fasilitas serupa di sejumlah SPBU di berbagai wilayah Indonesia.
Minyak jelantah yang disetorkan dapat ditukar dengan uang atau saldo dompet digital.
Dengan mekanisme tersebut, masyarakat memperoleh insentif sekaligus memiliki alternatif untuk mengelola limbah rumah tangga secara lebih bertanggung jawab.
Pertamina Patra Niaga menyatakan produk SAF telah dipasarkan kepada sejumlah maskapai penerbangan domestik dan internasional.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...