Ia juga menyinggung perbedaan respons masyarakat terhadap istilah “haram”.
Menurutnya, sebagian orang bisa langsung bereaksi emosional ketika mendengar sebuah aktivitas disebut haram.
Meski demikian, Maruf kembali menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan ucapan Setyo yang menyebut MUI Jatim “goblok”.
Ia menganggap perkataan tersebut sebagai bagian dari dinamika ketika sebuah keputusan menimbulkan perbedaan pandangan.
“Tapi bagi saya, kalau (kata goblok) ditujukan ke saya pribadi, nggak masalah. Kita ini terus belajar kok, tiap hari kan kita belajar,” tandasnya.
Polemik fatwa haram sound horeg pun terus menjadi perhatian publik.
Pernyataan keras dari bos sound horeg dan respons tenang KH Maruf Khozin memperlihatkan dua pandangan yang berbeda dalam menyikapi keputusan MUI Jatim.
Di tengah pro dan kontra tersebut, MUI Jatim memilih mempertahankan pendekatan yang mengedepankan penjelasan, sementara pelaku sound horeg memiliki pandangan berbeda terhadap keputusan fatwa tersebut.




