Namun, berdasarkan data BMKG, tinggi gelombang maksimal yang terpantau hanya sekitar 1 meter.
Ida menjelaskan, ketinggian gelombang tersebut terpantau pada jarak yang cukup jauh dari pinggir pantai.
Karena itu, kondisi gelombang saat kejadian dinilai tidak menunjukkan adanya sesuatu yang signifikan hingga dapat mengganggu keselamatan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Kemudian untuk ketinggian gelombangnya itu juga maksimal 1 meter, itu untuk jarak yang sangat jauh dari pinggir ya,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, BMKG menegaskan cuaca maupun gelombang bukan faktor yang menunjukkan adanya gangguan signifikan terhadap keselamatan di kawasan Anak Krakatau ketika lima jurnalis dilaporkan hilang kontak.
Pernyataan BMKG ini membuat dugaan penyebab insiden tersebut semakin menjadi sorotan.
Pasalnya, ketika lima jurnalis dinyatakan hilang kontak, kondisi alam berdasarkan pengamatan cuaca justru relatif bersahabat.
Kasus tersebut juga tidak hanya menyangkut lima jurnalis.
Kapten kapal, anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu yang berada dalam rombongan turut dinyatakan hilang saat perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Hingga kini, hilangnya rombongan tersebut masih menjadi perhatian dan proses pencarian terus dilakukan.
Fakta bahwa kondisi cuaca tidak menunjukkan adanya hujan maupun gelombang ekstrem membuat misteri hilangnya rombongan di sekitar Anak Krakatau semakin mengundang tanda tanya.




