JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dinilai telah berkembang menjadi krisis yang berdampak luas terhadap kesehatan, pendidikan, transportasi hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Hal itu disampaikan Hamdi Putra dari Forum Sipil Bersuara (FORSIBER). Ia menilai karhutla 2026 tidak lagi dapat dipandang sebagai rangkaian kebakaran lokal, mengingat asap telah memasuki kawasan perkotaan dan mengganggu kehidupan masyarakat.
“Per 20 Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan tidak lagi dapat diperlakukan sebagai rangkaian kebakaran lokal yang terpisah-pisah, karena dampaknya sudah bergerak menjadi krisis regional yang menyentuh kesehatan, pendidikan, transportasi, ekonomi dan keselamatan masyarakat,” kata Hamdi, Kamis (20/8/2026).
Hamdi menyoroti data BNPB hingga 9 Agustus 2026 yang mencatat sekitar 48.889,69 hektare lahan terbakar di enam provinsi prioritas nasional. Dari angka tersebut, Kalimantan Barat mencapai 28.680,47 hektare, Kalimantan Tengah 3.069,52 hektare, dan Kalimantan Selatan 383,07 hektare.
Menurutnya, tiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 32.133 hektare atau 65,7 persen dari total luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas.
Kalimantan Barat disebut menjadi salah satu wilayah dengan tekanan paling serius. Pada Januari hingga Maret 2026 saja, luas karhutla di provinsi tersebut telah mencapai 10.601,85 hektare, melonjak dibandingkan sekitar 470,09 hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Hamdi menilai kondisi tersebut semestinya menjadi peringatan dini bagi pemerintah, terlebih pemerintah telah mengetahui adanya sejumlah faktor risiko seperti musim kemarau, kondisi gambut yang mengering dan peningkatan hotspot.
“Situasi ini menjadi semakin serius karena karhutla 2026 bukan bencana yang datang tanpa peringatan,” ujarnya.
Dampak karhutla kini juga mulai dirasakan langsung masyarakat. Di Kalimantan Barat, kualitas udara memburuk hingga pembelajaran tatap muka sejumlah jenjang pendidikan dialihkan menjadi daring. Kasus gangguan pernapasan juga meningkat dan masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Sementara di Kalimantan Tengah, Hamdi mencatat peningkatan kejadian karhutla berlangsung cepat. Di Palangka Raya, jumlah kejadian yang tercatat hingga 10 Agustus meningkat dari 195 menjadi 298 kejadian pada 19 Agustus.
Keterbatasan kapasitas penanganan di lapangan juga mulai terlihat. BPBD Kotawaringin Timur, misalnya, pada 17 Agustus harus menangani 17 lokasi kebakaran dalam satu hari dan menghadapi kendala keterbatasan personel.
Dampak lainnya merambah sektor transportasi. Penerbangan dari dan menuju Bandara Haji Muhammad Sidik di Muara Teweh sempat dibatalkan akibat kabut asap yang menurunkan jarak pandang.
Hamdi mengingatkan, kondisi gambut membuat penanganan kebakaran menjadi semakin sulit karena api dapat merambat di bawah permukaan dan kembali muncul meski api di permukaan telah dipadamkan.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...