HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harapan menemukan korban selamat dari gempa dahsyat di Kolombia semakin berpacu dengan waktu. Sedikitnya 281 orang meninggal dunia, sementara hampir 380 lainnya masih dinyatakan hilang setelah gempa magnitudo 7,4 mengguncang sejumlah wilayah negara tersebut.
Gempa yang terjadi pada Senin itu menjadi salah satu bencana gempa paling parah yang dialami Kolombia dalam beberapa dekade terakhir. Guncangan menyebabkan kerusakan di berbagai fasilitas umum, mulai dari rumah, sekolah, jembatan hingga bandara.
Tim penyelamat kini masih dikerahkan ke sejumlah titik yang mengalami kerusakan parah. Fokus utama mereka adalah menemukan warga yang kemungkinan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
Presiden Kolombia Abelardo De la Espriella menegaskan bahwa pencarian warga yang belum ditemukan menjadi prioritas pemerintah dalam penanganan bencana tersebut.
“Upaya utama kami difokuskan pada mereka yang masih hilang,” demikian dikatakan Abelardo De la Espriella dikutip Holopis.com, Jum’at (14/8).
Pemerintah Kolombia menghadapi tantangan besar karena proses pencarian dilakukan dalam periode yang sangat menentukan. Dalam operasi penyelamatan bangunan runtuh, 72 jam pertama menjadi masa penting untuk menemukan korban yang masih mungkin bertahan hidup.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Kolombia mengambil keputusan untuk membatasi keterlibatan tim penyelamat dari luar negeri. Tim SAR dari Amerika Serikat, El Salvador, Ekuador, dan Israel menjadi empat negara yang dipilih untuk dimintai bantuan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Kolombia David Tamayo Roldán menyebut pemilihan tersebut berkaitan dengan persyaratan sertifikasi yang harus dipenuhi personel penyelamat untuk menjalankan operasi di lokasi terdampak.
Keputusan itu kemudian memunculkan pertanyaan karena sejumlah organisasi dan negara sebelumnya telah menawarkan bantuan. Tim penyelamat Topos dari Meksiko, yang dikenal memiliki pengalaman dalam menangani bencana dan bangunan runtuh, sempat menyatakan belum mendapatkan permintaan resmi untuk ikut dalam operasi pencarian.
Pemerintah Kolombia sendiri mengatakan kebutuhan bantuan internasional masih dalam proses pemetaan. Kementerian Luar Negeri tengah menyusun daftar kebutuhan khusus agar bantuan yang diterima dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Menteri Luar Negeri Omar Bula juga membantah bahwa pemerintah sengaja menutup akses bagi negara tertentu. Menurutnya, seluruh tawaran bantuan tetap dipertimbangkan tanpa membawa kepentingan politik.
“Kami tidak mengecualikan negara mana pun terkait tawaran yang telah diberikan kepada kami. Kami bekerja sama dengan negara-negara tanpa pertimbangan ideologis atau politik,” demikian dikatakan Omar Bula dikutip Holopis.com.
Namun, langkah tersebut mendapat sorotan dari pengamat politik Sandra Borda. Ia menilai koordinasi bantuan internasional menjadi rumit di tengah proses pergantian pemerintahan Kolombia.



