JAKARTA, HOLOPIS.COM – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah telah menutup 290 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai bagian dari langkah besar melakukan restrukturisasi perusahaan negara.
Prabowo mengatakan langkah tersebut dilakukan karena masih banyak BUMN yang dinilai tidak produktif dan terus mengalami kerugian. Bahkan, ia menyoroti adanya laporan perusahaan negara yang mencatatkan keuntungan yang menurutnya tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
“Kalau saya laporkan semuanya, saya takut rakyat kita marah semuanya. Terlalu banyak BUMN yang tidak produktif, rugi terus laporannya untung. Ngarang aja itu untungnya itu,” kata Prabowo dalam pidato dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD RI, Jumat (14/8/2026).
Menurut Prabowo, persoalan tersebut juga berkaitan dengan banyaknya perusahaan asing yang bekerja sama dengan BUMN. Karena itu, pemerintah berupaya melakukan pembenahan agar praktik-praktik yang dianggap merugikan negara dapat dihentikan.
“Kita kena masalah, karena banyak perusahaan-perusahaan asing kan juga kerja sama dengan BUMN kita. Jadi kita harus menghilangkan ini, permainan-permainan ini,” ujarnya.
Prabowo kemudian menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan penutupan terhadap 290 BUMN. Ia menargetkan jumlah perusahaan negara yang tersisa pada akhir 2026 tidak lebih dari 300 BUMN.
“Tapi saya dengan bangga hari ini saya mau melaporkan kepada majelis yang terhormat, hari ini kita telah menutup 290 BUMN. Pada Desember 31 2026 kita targetkan hanya akan memiliki paling banyak 300 BUMN. 750 BUMN lebih akan kita tutup,” ungkapnya.

Presiden menegaskan bahwa pemerintah hanya akan mempertahankan BUMN yang dinilai mampu memberikan manfaat dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
“Hanya yang produktif, hanya yang menciptakan nilai tambah untuk rakyat akan kita pertahankan,” tegas Prabowo.
Ia menyebut proses perampingan tersebut sebagai salah satu restrukturisasi korporasi terbesar di dunia. Menurutnya, pengurangan jumlah BUMN juga telah memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi anggaran.
“Ini mungkin adalah restrukturisasi korporasi terbesar di dunia. Dengan perampingan jumlah BUMN hari ini saja kita telah menghemat biaya overhead sekitar Rp50 triliun,” kata Prabowo.
Penghematan tersebut, lanjut dia, berasal dari berbagai komponen biaya operasional, mulai dari gaji direksi dan komisaris, sewa gedung, sewa kendaraan hingga perjalanan dinas.



