Kesaksian kedua pengemudi tersebut disampaikan saat Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, melakukan kunjungan ke SPBU 14.227.322 di Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Dalam kunjungan tersebut, Yuliot tidak hanya memastikan pasokan bahan bakar tersedia dengan baik, tetapi juga berdialog langsung dengan masyarakat yang telah menggunakan B50.
Pemerintah ingin mengetahui bagaimana pengalaman pengguna setelah kebijakan mandatori biodiesel 50 persen mulai diterapkan secara nasional.
Menurut Yuliot, evaluasi implementasi B50 harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari distribusi hingga pengalaman konsumen di lapangan.
Masukan dari para pengemudi dinilai penting untuk memastikan program berjalan sesuai harapan.
“Kita mengecek pasokan BBM yang ada di seluruh daerah, dan saya lihat pasokan BBM cukup lancar. Selain mengecek kelancaran BBM, kita juga ingin melihat implementasi B50, kita harus mengecek bagaimana penerapannya di lapangan,” ujar Yuliot.
Pemerintah memastikan ketersediaan pasokan B50 terus dijaga agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Selain mendukung aktivitas transportasi, kebijakan mandatori B50 juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan berbasis minyak sawit sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Meski implementasinya masih terus dipantau, pengalaman para sopir angkutan yang menggunakan B50 setiap hari memberikan sinyal positif.
Hingga kini mereka mengaku belum menemukan gangguan berarti pada mesin kendaraan, meski masih merasakan sedikit perbedaan tenaga saat melewati tanjakan.
Pemerintah pun akan terus melakukan evaluasi agar pelaksanaan program B50 berjalan optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun sektor energi nasional.


