Besarnya produksi tersebut tidak terlepas dari keberhasilan sektor pembibitan dalam menyediakan bibit unggul yang memiliki performa produksi tinggi.
Di sisi konsumsi, data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian menunjukkan permintaan masyarakat terhadap daging ayam dan telur terus meningkat setiap tahun.
Kondisi tersebut menjadikan industri perunggasan sebagai salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional, sekaligus penyedia protein hewani dengan harga yang relatif terjangkau.
Kongres XIV GPPU juga menghasilkan kepengurusan baru.
Melalui mekanisme musyawarah mufakat, peserta kongres memilih Asrokh Nawawi sebagai Ketua Umum GPPU periode 2026–2030.
Dalam pidato perdananya, Asrokh menilai tantangan industri unggas ke depan akan semakin kompleks.
Selain menghadapi fluktuasi harga bahan baku pakan, pelaku usaha juga dituntut mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, ancaman penyakit hewan, hingga dinamika perdagangan global.
Menurutnya, tantangan tersebut tidak dapat dihadapi sendiri oleh pelaku usaha. Kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, asosiasi, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar industri perunggasan nasional tetap kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Kami ingin memperkuat sinergi dengan seluruh stakeholder sehingga industri perunggasan Indonesia semakin adaptif, efisien, dan berdaya saing. Dengan kebersamaan, kami optimistis sektor ini akan terus berkembang,” kata Asrokh.
Sebagai bagian dari rangkaian kongres, GPPU juga meluncurkan buku “Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan: Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia.”
Buku tersebut mendokumentasikan perjalanan organisasi sejak berdiri pada 20 Desember 1970, termasuk berbagai tonggak perkembangan industri pembibitan nasional, dinamika kebijakan pemerintah, hingga inovasi yang mendorong modernisasi sektor perunggasan.
Seminar nasional yang digelar dalam kongres turut menghadirkan pembicara dari unsur pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.
Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari kondisi ekonomi global, transformasi industri pembibitan, penguatan biosekuriti, digitalisasi breeding, hingga strategi mewujudkan industri unggas yang berkelanjutan.


