“Defense kami sejak kuarter kedua sebenarnya sudah lebih agresif dan lebih rapi. Tapi kami tidak bisa mengontrol tempo permainan, justru mengikuti tempo lawan. Sempat bisa mengejar ketika kami berhasil mengambil kembali tempo pertandingan,” ujarnya, sebagaimana informasi yang diterima Holopis.com.
Menurut Jezswi, keberhasilan Satria mengendalikan ritme permainan membuat timnya tidak mampu menjalankan game plan secara maksimal.
“Mereka berhasil mengambil kontrol tempo permainan. Itu yang membuat kami keluar dari game plan,” katanya.
Ia pun mengambil banyak pelajaran dari partai final tersebut.
“Defense, rebound, dan rasa hormat kepada lawan menjadi pelajaran penting. Jangan pernah meremehkan siapa pun. Basket adalah permainan momentum, jadi ketika mendapat momentum harus benar-benar dijaga,” tuturnya.
Di sisi lain, pelatih Satria Karadenan Bogor, Mabruri, mengakui tekanan partai final sempat membuat anak asuhnya bermain tegang.
“Anak-anak tegang sekali. Saya terus bilang kepada mereka untuk menikmati pertandingan karena atmosfer final memang berbeda dari pertandingan sebelumnya,” ujarnya.
Mabruri menilai keberhasilan timnya menjalankan pertahanan sesuai rencana menjadi keputusan paling tepat sepanjang pertandingan.
“Anak-anak mampu menjalankan defense dengan baik. Kami berusaha mematikan pemain-pemain kunci lawan supaya mereka tidak bisa bermain senyaman biasanya,” katanya.


