HOLOPIS.COM, JAKARTA – Microsoft mengungkap tren menarik terkait pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia. Berdasarkan laporan Work Trend Index (WTI) 2026, sekitar 33 persen pekerja pengguna AI di Tanah Air telah masuk kategori frontier professionals, yakni kelompok yang dinilai lebih matang dalam memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung pekerjaan.
Senior Cloud and AI Platform GTM Microsoft ASEAN, Fiki Setiyono, mengatakan kelompok ini tidak sekadar menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai mitra kerja tanpa menghilangkan peran manusia dalam mengambil keputusan.
“Tapi justru menggunakan kemampuan berpikir kritis mereka untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kemampuan agen AI tersebut, memperluas cara berpikir, memperluas kapasitas berpikir,” kata Fiki dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Angka tersebut tergolong tinggi. Secara global, rata-rata pekerja yang masuk kategori frontier professionals hanya mencapai 16 persen. Dengan kata lain, proporsi pengguna AI yang matang di Indonesia mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata dunia.
Microsoft juga mencatat, Indonesia menjadi salah satu negara yang menonjol dalam pemanfaatan agen AI di kawasan Asia Pasifik.
AI Membantu Pekerjaan yang Dulu Dianggap Mustahil
Hasil survei menunjukkan 82 persen responden di Indonesia mengaku AI membantu mereka menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya dianggap terlalu sulit, bahkan mustahil dilakukan. Angka ini jauh melampaui rata-rata global yang berada di level 58 persen.
Sebanyak 74 persen responden juga mengaku telah terbiasa menentukan lebih dulu pekerjaan mana yang akan didelegasikan kepada AI sebelum mulai bekerja.
Di sisi lain, 38 persen responden memilih tetap mengerjakan sebagian tugas secara mandiri agar kemampuan mereka tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi. Persentase itu lebih tinggi dibandingkan pengguna AI non-frontier di Indonesia yang berada di angka 28 persen.
AI Tak Lagi Sekadar Chatbot
Fiki menjelaskan, cara masyarakat memanfaatkan AI kini semakin berkembang. Pengguna tidak lagi hanya memberikan prompt kepada chatbot, tetapi mulai menjadikan AI sebagai bagian dari proses kerja sehari-hari.
Menurutnya, terdapat empat pola utama penggunaan AI saat ini, yaitu:
- Delegasi, yakni menyerahkan sebagian pekerjaan kepada agen AI.
- Kolaborasi, menggunakan AI sebagai rekan untuk membantu analisis dan pengambilan keputusan.
- Bertanya, memanfaatkan AI sebagai alat pencarian informasi dan riset.
- Eksplorasi, menjadikan AI sebagai mitra untuk menemukan solusi atas persoalan yang lebih kompleks.
Meski begitu, Fiki menegaskan bahwa ciri utama frontier professionals bukan hanya mahir menggunakan berbagai fitur AI, tetapi juga tetap bertanggung jawab atas hasil yang dihasilkan teknologi tersebut.
“Jadi frontier professionals selain mereka melakukan pemanfaatan AI ini dengan alat yang tersedia, mereka tetap memposisikan diri mereka bertanggung jawab terhadap hasil dan dampaknya,” kata Fiki.
Penilaian Manusia Tetap Jadi Penentu
Laporan Microsoft juga menunjukkan bahwa penggunaan AI di Indonesia masih menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan utama.
Sebanyak 62 persen responden menilai kemampuan berpikir kritis dan menganalisis informasi secara objektif justru semakin penting di era AI. Sementara itu, 60 persen responden menilai proses pemeriksaan kualitas hasil kerja AI menjadi semakin krusial seiring meningkatnya kompleksitas pekerjaan yang didelegasikan kepada teknologi tersebut.
Bahkan, sebanyak 93 persen pengguna AI di Indonesia menganggap hasil yang diberikan AI hanyalah titik awal, bukan keputusan akhir.
“Pengguna AI di Indonesia ini tetap menempatkan penilaian manusia ya sebagai pusat dari keputusan mereka bagaimana mereka akan menggunakan agen AI,” ujar Fiki.
Ia menilai pola pikir tersebut menjadi pembeda utama antara sekadar mengadopsi AI dengan benar-benar memanfaatkan teknologi secara matang dalam dunia kerja.
“Salah satu pembeda adopsi AI dan kematangan dalam menggunakan AI adalah sebuah pemikiran yang menempatkan penilaian AI itu tetap berperan penting bahkan kritikal,” katanya.

