JAKARTA – Forum Sipil Bersuara (Forsiber) menilai klaim mengenai meningkatnya tingkat kepercayaan publik terhadap Polri hingga 82,4 persen berdasarkan survei Litbang Kompas berpotensi menyesatkan. Menurut organisasi tersebut, angka yang ramai dikutip itu sejatinya tidak mengukur tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polri saat ini, melainkan optimisme publik terhadap perbaikan institusi tersebut di masa mendatang.
Ketua Forsiber, Hamdi Putra, menjelaskan bahwa angka 82,4 persen berasal dari jawaban responden atas pertanyaan mengenai keyakinan apakah kinerja Polri akan semakin baik ke depan.
“Angka 82,4 persen tersebut tidak secara langsung menggambarkan tingkat kepercayaan publik terhadap kinerja Polri saat ini. Angka itu lahir dari pertanyaan mengenai keyakinan responden apakah kinerja Polri akan semakin baik di masa mendatang,” kata Hamdi Putra dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/6/2026).
Karena itu, Hamdi menilai angka tersebut lebih tepat dimaknai sebagai indikator harapan masyarakat terhadap pembenahan Polri, bukan sebagai ukuran bahwa kualitas pelayanan maupun penegakan hukum telah sepenuhnya dipercaya publik.
Forsiber juga mengkritisi adanya perbandingan antara angka 82,4 persen dalam survei tahun 2026 dengan angka 76,2 persen pada survei Litbang Kompas tahun 2025 yang kemudian dipromosikan sebagai kenaikan tingkat kepercayaan publik.
Menurut Hamdi, kedua angka tersebut berasal dari indikator yang berbeda sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai tren peningkatan.
“Pada survei 2025, angka 76,2 persen dijelaskan sebagai akumulasi responden yang menyatakan percaya dan sangat percaya kepada Polri. Sementara pada survei 2026, angka 82,4 persen berasal dari keyakinan bahwa kinerja Polri akan semakin baik pada masa mendatang,” ujarnya.
Ia menegaskan, secara metodologis perbandingan antarperiode hanya dapat dilakukan apabila pertanyaan, indikator, pilihan jawaban, serta rancangan pengukuran yang digunakan benar-benar identik.

