Guntur Romli Klaim PDIP Ogah Julidin Jokowi di Internal

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Politikus PDIP Guntur Romli mengklaim bahwa partai mereka tidak pernah lagi membahas Presiden ke-7 RI Jokowi (Joko Widodo).

Hal ini diketahui berbeda dengan apa yang sudah disampaikan Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus mengenai nasib Jokowi.

“Jokowi sudah tidak pernah diperbincangkan di PDI Perjuangan,” kata Guntur pada Senin (15/6).

Guntur kemudian kembali mengingatkan mengenai status Jokowi yag sudah dipecat oleh PDIP beberapa waktu lalu.

“Kami harus menjelaskan, bahwa Jokowi dipecat oleh PDI Perjuangan, bahwa Jokowi bukan mundur, bukan pergi, bukan meninggalkan PDI Perjuangan, tapi dipecat dan dikeluarkan oleh PDI Perjuangan,” ucapnya.

Dia menegaskan hubungan antara PDIP dan Jokowi telah berakhir setelah partai menjatuhkan sanksi pemecatan. Menurutnya, Jokowi telah melanggar AD/ART partai.

“Jokowi bukan mundur, pergi atau meninggalkan PDI Perjuangan, tapi Jokowi dipecat dan diusir dari PDI Perjuangan. Jokowi adalah malin kundang,” ujarnya.

Guntur juga menilai berbagai persoalan terkait Jokowi tak lagi berkaitan dengan PDIP. Dia menyebut Jokowi seharusnya bertanggung jawab kepada rakyat atas kebijakan yang diambil selama menjabat Presiden RI.

“Kalau rakyat sekarang mengalami kesulitan, maka silakan tagih tanggung jawab Jokowi yang katanya mau keliling. Kalau PDI Perjuangan sudah tegas, karena Jokowi melanggar, kami pecat. Nah silakan rakyat, apa mau menyambut Jokowi atau malah mau menagih janji,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, PDIP memastikan bahwa mereka tidak akan pernah melupakan sosok Presiden ke-7 RI Jokowi (Joko Widodo) sampai kapanpun.

Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus bahkan menyebut bahwa sosok Jokowi justru dijadikan bahan omongan dan pembelajaran di internal partai.

“Sudah barang tentu PDIP tidak akan pernah melupakan Jokowi sampai kapan pun. Bahkan dalam semua kegiatan pengkaderan, pelajaran berharga dari kehadiran Jokowi menjadi studi kasus untuk dibahas,” kata Deddy.

Bahan pembicaraan itu menurut Deddy, mulai dari sifat Jokowi yang dianggap bisa berubah dan berbohong demi membangun dinasti.

“Bahwa manusia bisa berubah jika sudah candu terhadap kekuasaan, ketenaran dan kekayaan. Kedua, orang bisa berbohong dan menipu dengan sempurna dalam jangka waktu yang lama, cukup pura-pura lugu dan sederhana padahal menyimpan ambisi dinasti lintas generasi,” jelasnya.

“Ketiga, bahwa kekuasaan dan syahwat kekuasaan itu sangat memabukkan dan bisa membuat orang membengkokkan semua fondasi demokrasi dan hukum negara,” imbuhnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ronald Steven
Ronald Steven
Tim Redaksi :
Apresiasi untuk Ronald Steven

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya dan artikel berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO, & ShopeePay.

BACA LAINNYA