HOLOPIS.COM, YOGYAKARTA – Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, melontarkan pandangan segar dengan menetapkan jamu tradisional bukan lagi sekadar minuman herbal biasa, melainkan sebuah Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property (IP) kultural yang bernilai ekonomi tinggi.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Ekraf saat menghadiri sebuah acara bincang-bincang santai di kawasan bersejarah Kepatihan Pakualaman, Yogyakarta, pada Sabtu malam.
Dalam kesempatan itu, ia hadir khusus sebagai narasumber utama dalam peluncuran perdana Podcast Jejamuan yang mengusung tema besar mengenai penjelajahan sejarah peradaban jamu di Nusantara.
“Jamu harus terus berkembang melalui penguatan brand, IP, dan hak kekayaan intelektualnya sehingga memiliki nilai tambah dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi seluruh ekosistemnya,” tegas Teuku Riefky.
Ia mengamati bahwa ramuan tradisional warisan leluhur ini telah sukses mendobrak sekat-sekat masa lalu dan kini bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup modern yang trendi.
Minuman yang dahulu identik dengan gendongan mbok jamu keliling kini dengan mudah dijumpai menghiasi menu kafe estetis, lobi hotel berbintang, pusat perbelanjaan mewah, hingga destinasi wisata kesehatan.
“Hari ini kita melihat jamu tidak lagi hanya identik dengan tradisi masa lalu, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern dan diminati lintas generasi, termasuk Gen Z dan milenial,” tambahnya dengan optimistis.
Guna memperluas daya jangkau pasar global, ia menekankan pentingnya sentuhan modern seperti kekuatan narasi atau storytelling, strategi penjenamaan yang matang, serta jaringan pemasaran yang luas.
Menteri Ekonomi Kreatif meyakini bahwa Indonesia memiliki modal yang sangat kokoh untuk memosisikan diri sebagai episentrum atau pusat industri kesehatan global di masa depan.
Modal utama tersebut terletak pada kelimpahan rempah-rempah tanah air, metode pengobatan herbal yang teruji waktu, serta kebiasaan hidup sehat masyarakat yang diwariskan turun-temurun.
“Tantangannya adalah bagaimana mengemas potensi tersebut secara profesional melalui kolaborasi yang melibatkan pelaku usaha, akademisi, media, asosiasi, dan institusi keuangan agar mampu bersaing di pasar global,” jelas Teuku Riefky.
Kementerian Ekonomi Kreatif pun berkomitmen penuh untuk terus memfasilitasi berbagai kolaborasi lintas sektor demi mendongkrak subsektor industri kesehatan berbasis kearifan lokal ini.
Langkah strategis ini diharapkan tidak hanya mampu menggenjot angka ekspor produk lokal, tetapi juga membuka lapangan kerja baru yang berkualitas serta menarik minat investor asing.
Sebagai bentuk aksi nyata di lapangan, kementerian tengah bersiap menggandeng Dewan Jamu Indonesia untuk menggebrak panggung internasional lewat sebuah perhelatan besar dalam waktu dekat.
Ajang bertajuk Jamu International Conference and Expo (JICE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang diproyeksikan menjadi batu loncatan utama jamu Indonesia untuk menguasai pasar dunia.


