Afandi Somar Sebut Dasco sebagai ‘Penenun Kebangsaan’ yang Menjaga Persatuan di Tengah Perbedaan

14 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

JAKARTA – Ketua Umum Komite Generasi Muda Timur Indonesia (KOGAMTI), Afandi Somar, menilai Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menjalankan peran penting sebagai penjaga kohesi kebangsaan di tengah dinamika politik yang semakin kompleks.

Pandangan itu dituangkan Afandi dalam catatan reflektif berjudul Penenun Kebangsaan: Catatan Batin Afandi Somar tentang Sufmi Dasco Ahmad, yang menggambarkan pentingnya figur-figur penghubung dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman dan perbedaan kepentingan.

Menurut Afandi, Indonesia sejak awal lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari kemampuan para pendiri bangsa merajut berbagai perbedaan menjadi satu kesatuan bernama Republik Indonesia.

“Bangsa ini tidak pernah kekurangan orang hebat, tidak pernah kekurangan orang pintar. Yang sering kali langka justru mereka yang bersedia melakukan pekerjaan sunyi: mempertemukan yang berjauhan, menjahit yang mulai robek, dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan,” kata Afandi dalam siaran tertulisnya, Senin (1/6/2026).

Dalam pandangannya, sejarah lebih sering mencatat para orator dan tokoh yang tampil di garis depan. Namun, ada peran lain yang tidak kalah penting, yakni mereka yang bekerja di balik layar menjaga komunikasi, membangun jembatan dialog, dan memastikan hubungan antar kelompok tetap terpelihara.

“Mereka adalah para penenun. Pekerjaan menenun bukan pekerjaan yang gaduh. Ia bekerja dengan ketekunan, menyatukan benang yang tercerai, menghubungkan helai yang berbeda warna, memastikan tidak ada simpul yang lepas,” ujarnya.

Dasco Dinilai Berperan Menjaga Ruang Dialog

Afandi mengaku melihat peran tersebut pada sosok Dasco yang selama ini lebih banyak bekerja di ruang-ruang komunikasi politik dibanding tampil sebagai figur yang mencari sorotan publik.

Ia menilai Dasco menjalankan fungsi penting sebagai penghubung berbagai kepentingan politik, terutama dalam kapasitasnya sebagai pimpinan parlemen.

“Ketika saya mengamati perjalanan politik Sufmi Dasco Ahmad, yang muncul dalam benak saya bukanlah sosok seorang pejabat negara atau seorang politikus dalam pengertian yang lazim dipahami publik. Saya justru melihat seorang penenun,” katanya.

Menurut Afandi, DPR merupakan ruang yang mempertemukan berbagai kepentingan politik, aspirasi masyarakat, dan agenda kebangsaan yang tidak selalu berjalan searah. Dalam kondisi tersebut, kemampuan membangun komunikasi dan menjaga dialog menjadi faktor yang sangat menentukan.

“Ia hadir bukan sebagai figur yang selalu berada di depan panggung. Ia lebih sering bekerja sebagai penghubung, sebagai perawat komunikasi, sebagai penjaga ruang dialog ketika perbedaan berpotensi berubah menjadi jurang pemisah,” tulisnya.

Afandi menilai peran tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya polarisasi politik, derasnya arus informasi digital, serta tantangan geopolitik dan ekonomi global yang dapat mempengaruhi kohesi sosial masyarakat.

Whatsapp Image 2026 06 01 At 11.56.54

Indonesia Butuh Lebih Banyak Jembatan daripada Tembok

Sebagai putra Indonesia Timur, Afandi mengibaratkan pentingnya peran pemersatu bangsa seperti fungsi sebuah jembatan yang menghubungkan wilayah-wilayah yang terpisah.

“Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan daripada tembok. Lebih banyak perajut daripada pemecah. Lebih banyak penjaga percakapan daripada pengobar pertengkaran,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ancaman terbesar bagi Indonesia bukanlah keberagaman itu sendiri, melainkan hilangnya kemampuan untuk mengelola keberagaman menjadi kekuatan bersama.

Menurut Afandi, ketika ruang dialog mulai hilang dan kecurigaan tumbuh di tengah masyarakat, maka persatuan nasional akan menjadi rapuh.

“Perpecahan jarang lahir karena terlalu banyak perbedaan. Perpecahan lahir ketika tidak ada lagi ruang yang cukup untuk mempertemukan perbedaan tersebut,” katanya.

Menjaga Tenunan Indonesia

Di bagian akhir refleksinya, Afandi menegaskan bahwa republik ini tidak hanya ditopang oleh konstitusi, lembaga negara, atau kekuatan ekonomi semata. Indonesia juga berdiri di atas kepercayaan bahwa berbagai perbedaan masih dapat dipertemukan dalam cita-cita bersama.

Karena itu, menurutnya, bangsa Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang bersedia merawat persatuan dan menjaga ruang kebersamaan di tengah perbedaan pandangan politik maupun kepentingan.

“Dalam tenunan besar bernama Indonesia itu, saya melihat Sufmi Dasco Ahmad menjalankan salah satu peran yang paling tua sekaligus paling penting dalam sejarah bangsa-bangsa, yakni menjadi perajut kebersamaan di tengah zaman yang semakin gemar mempertajam perbedaan,” tulis Afandi.

Ia menutup catatannya dengan sebuah pesan reflektif mengenai pentingnya menjaga persatuan nasional.

“Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak runtuh karena terlalu banyak perbedaan. Sebuah bangsa runtuh ketika tidak ada lagi yang bersedia menenun perbedaan itu menjadi persatuan,” pungkasnya.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
14 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU