PBB Peringatkan Krisis Timur Tengah Tekan Ekonomi Global

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTAPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan kondisi ekonomi global saat ini tengah berada di bawah tekanan akibat krisis yang terus berlangsung di Timur Tengah. Situasi tersebut dinilai memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, memicu kembali tekanan inflasi, hingga meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan internasional.

Peringatan itu disampaikan dalam laporan World Economic Situation and Prospects 2026 Mid-year Update yang dirilis PBB pada Selasa (19/5). Dalam laporan tersebut, proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global tahun 2026 diturunkan menjadi 2,5 persen atau lebih rendah dibanding proyeksi Januari lalu.

“Krisi di Timur Tengah telah memperparah tekanan di perekonomian-perekonomian berkembang,” kata Under-Secretary-General PBB Li Junhua, dikutip Holopis.com, Selasa (20/5).

“Meningkatnya biaya pinjaman dan tekanan baru terhadap arus modal berisiko memperdalam kerentanan utang serta membatasi sumber daya yang tersedia untuk pembangunan berkelanjutan pada momen yang krusial,” lanjutnya.

Sementara itu, ekonomi dunia diperkirakan hanya mengalami pemulihan moderat pada 2027 dengan pertumbuhan sekitar 2,8 persen. PBB menilai dampak terbesar dari krisis Timur Tengah saat ini paling terasa di sektor energi akibat gangguan pasokan dan lonjakan harga.

Kenaikan harga energi juga disebut berdampak pada biaya pengangkutan dan asuransi global yang ikut meningkat. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi rantai pasokan internasional dan membuat biaya produksi di berbagai negara menjadi lebih mahal.

- Advertisement -

Selain energi, harga pangan juga menjadi perhatian serius dalam laporan tersebut. Gangguan pasokan pupuk dinilai dapat menaikkan biaya pertanian yang berpotensi menurunkan hasil panen sekaligus meningkatkan harga pangan dunia.

PBB juga menilai konflik Timur Tengah telah menghentikan tren penurunan inflasi global yang sempat berlangsung sejak 2023. Inflasi di negara maju diperkirakan naik dari 2,6 persen pada 2025 menjadi 2,9 persen pada 2026.

Sementara di negara berkembang, inflasi diproyeksikan meningkat dari 4,2 persen menjadi 5,2 persen. Negara berkembang yang bergantung pada impor bahan bakar dan pangan disebut menjadi pihak yang paling rentan menghadapi tekanan ekonomi saat ini.

Di tengah situasi tersebut, pasar tenaga kerja yang masih cukup solid serta investasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang masih membantu menopang aktivitas ekonomi global. Namun PBB menilai faktor-faktor tersebut belum cukup kuat untuk sepenuhnya menahan dampak perlambatan ekonomi dunia.

Kawasan Asia Barat diperkirakan menjadi wilayah yang paling terdampak oleh krisis Timur Tengah. Pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut diproyeksikan turun tajam dari 3,6 persen pada 2025 menjadi hanya 1,4 persen pada 2026 akibat gangguan produksi minyak, perdagangan, pariwisata, hingga kerusakan infrastruktur.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU