Swasembada Kedelai Dimulai dari Nganjuk! Mentan Amran Janji Harga Petani Tembus Rp13.500 per Kg

0 Shares

HOLOPIS.COM, NGANJUK – Mentan Amran dorong swasembada kedelai dari Nganjuk dengan target harga petani Rp13.500 per kg demi kurangi impor nasional.

Upaya besar mewujudkan swasembada kedelai nasional mulai digencarkan dari Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan menjanjikan harga pembelian kedelai petani bisa mencapai Rp13.500 per kilogram demi mendongkrak semangat produksi dan mengurangi ketergantungan impor.

Komitmen itu ditegaskan saat panen raya kedelai bersama di Nganjuk, Kamis (15/5/2026), yang dihadiri Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto dan Panglima TNI Agus Subiyanto.

Mentan Amran mengatakan, kedelai menjadi salah satu komoditas strategis yang selama ini masih membuat Indonesia bergantung pada impor.

Padahal, konsumsi tahu dan tempe masyarakat Indonesia terus meningkat setiap tahun.

- Advertisement -

“Beras sudah swasembada, cabai swasembada, jagung dan telur sudah ekspor. Kalau kedelai selesai, di situlah kedaulatan pangan Republik tercapai,” kata Amran di hadapan petani dan jajaran pemerintah daerah.

Saat ini kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun.

Namun ironisnya, sekitar 95 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi dari impor atau mencapai 2,6 juta ton.

Amran menilai kondisi itu harus segera diubah. Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki lahan luas, petani yang berpengalaman, serta teknologi yang cukup untuk mengejar swasembada kedelai.

“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Padahal petani kita mampu. Kebangkitan kedelai nasional harus dimulai dari daerah produktif seperti Nganjuk,” ujarnya.

Nganjuk sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Kabupaten ini menjadi salah satu sentra kedelai potensial di Jawa Timur dengan produktivitas mencapai 2,2 ton per hektare atau di atas rata-rata nasional yang berkisar 1,7 ton per hektare.

Dalam dua tahun terakhir, produksi kedelai Nganjuk rata-rata mencapai 8 ribu ton dari luas tanam sekitar 3.249 hektare.

Produksi itu bahkan sudah mampu memenuhi sekitar 72 persen kebutuhan kedelai daerah setempat.

Kolaborasi besar pun dibentuk antara Kementerian Pertanian, TNI AL, dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk.

Program pengembangan kedelai dilakukan di lahan seluas 2.000 hektare yang tersebar di Kecamatan Rejoso, Wilangan, dan Bagor.

Panglima TNI Agus Subiyanto menyebut total pengembangan kawasan bahkan mencapai 2.300 hektare dengan estimasi hasil panen sekitar 3.400 ton.

“Kegiatan ini menggunakan varietas unggul Grobogan yang memiliki produktivitas tinggi. Saya berharap program ini tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi model nasional,” kata Agus.

Untuk mempercepat produksi, pemerintah menyalurkan bantuan benih kedelai varietas Grobogan sebanyak 100 ton atau setara 50 kilogram per hektare.

Tak hanya itu, bantuan alat mesin pertanian berupa 20 unit traktor roda dua dan bajak singkal juga diterjunkan guna mempercepat pengolahan lahan.

Yang paling menyita perhatian petani adalah komitmen pemerintah terkait harga kedelai.

Selama ini harga di tingkat petani hanya berkisar Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram sehingga membuat banyak petani enggan menanam kedelai.

Kini, pemerintah berjanji akan menjaga harga agar tidak jatuh lagi.

“Tidak boleh kedelai dibeli di bawah Rp10 ribu per kilo. Dalam waktu singkat kami keluarkan keputusan,” tegas Amran.

Bahkan pemerintah tengah mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) kedelai di kisaran Rp13.500 per kilogram agar petani mendapat keuntungan layak seperti komoditas gabah dan jagung.

“Petani harus untung. Kalau harga bagus dan pasar terjamin, petani pasti semangat tanam kedelai,” katanya.

Tak berhenti di situ, pemerintah juga menjamin hasil panen petani akan terserap pasar melalui kerja sama dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia atau Gakoptindo.

Melalui nota kesepahaman yang diteken sejak Maret 2026, Gakoptindo siap membeli hasil panen kedelai petani sehingga kekhawatiran soal pemasaran dapat ditekan.

Amran juga memastikan hasil produksi benih yang dikembangkan bersama TNI akan dibeli pemerintah dan dibagikan kembali secara gratis kepada petani.

“Nanti benih yang diproduksi akan kami beli dan dibagikan lagi gratis untuk petani Nganjuk,” ujarnya.

Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto turut mengapresiasi tingginya produktivitas kedelai di Nganjuk.

Menurutnya, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan tahu dan tempe nasional.

“Indonesia bangsa makan tahu tempe setiap hari, tapi kedelainya impor. Ini harus diubah,” katanya.

Sementara itu, Ketua Poktan Rukun Tani Desa Mudikan, Suwito, mengaku program pemerintah membuat petani kembali optimistis menanam kedelai.

“Harga sekarang sudah lumayan stabil, sekitar Rp9 ribu sampai Rp10 ribu. Dengan program pemerintah seperti ini, harga kedelai mulai terangkat,” ujarnya.

Pemerintah optimistis kolaborasi antara Kementan, TNI, DPR RI, pemerintah daerah, dan petani mampu menjadi titik balik kebangkitan kedelai nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor yang selama puluhan tahun membebani Indonesia.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Ronalds Petrus Gerson
Gesha Yuliani Nattasya, Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU