HOLOPIS.COM, JAKARTA – Situasi kemanusiaan di Lebanon dilaporkan terus memburuk meski gencatan senjata telah diberlakukan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut serangan di wilayah selatan Lebanon masih terus terjadi, bahkan fasilitas kesehatan dan petugas medis ikut menjadi sasaran.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Senin (11/5) melaporkan lebih dari 100 serangan terjadi hanya dalam waktu 24 jam terakhir. Sementara itu, sedikitnya 87 orang dilaporkan tewas sepanjang akhir pekan.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon yang dikutip OCHA, sejak konflik antara Israel dan Hizbullah kembali meningkat pada 2 Maret lalu, total korban tewas sudah mencapai 2.846 orang dengan lebih dari 8.600 korban luka.
Serangan terbaru juga menargetkan lokasi layanan kesehatan di kota Qalaway dan Tibnin, Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan dua petugas paramedis tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
OCHA menyebut para paramedis tersebut sebenarnya sedang menangani korban dari serangan sebelumnya saat serangan udara kembali terjadi.
Sejak awal eskalasi konflik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencatat sedikitnya 158 serangan terhadap fasilitas dan layanan kesehatan. Serangan tersebut menyebabkan 108 orang tewas dan 249 lainnya terluka.
“PBB menegaskan kembali bahwa serangan terhadap personel kemanusiaan dan medis tidak dapat diterima dan semakin melemahkan sistem kesehatan yang sudah kewalahan dan akses perawatan darurat bagi warga sipil,” kata OCHA, dikutip Holopis.com, Selasa (12/5).
Kondisi layanan kesehatan di Lebanon pun disebut semakin kritis. Hingga kini, tiga rumah sakit dan 41 pusat layanan kesehatan primer masih tutup, sementara beberapa fasilitas lain hanya beroperasi sebagian.
Di wilayah Lebanon selatan, enam rumah sakit bahkan belum kembali membuka layanan persalinan yang sebelumnya dihentikan akibat konflik.
Situasi semakin rumit setelah Israel kembali mengeluarkan perintah evakuasi untuk sejumlah kota dan desa di Lebanon selatan serta wilayah Nabatieh selama akhir pekan lalu. Langkah tersebut memicu gelombang pengungsian baru dan membuat tempat penampungan semakin penuh.
OCHA juga mengingatkan para pengungsi kini menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan bergizi, terutama kelompok rentan seperti ibu hamil.
“Mitra-mitra kesehatan menyampaikan bahwa para pengungsi, termasuk kelompok-kelompok yang paling rentan seperti wanita hamil, sering menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan yang memadai dan beragam, sehingga meningkatkan risiko kesehatan,” ujar OCHA.
Meski di tengah keterbatasan, organisasi kemanusiaan masih terus berupaya menyalurkan bantuan. Hingga saat ini, lebih dari 585 pasien telah mendapat bantuan perawatan rumah sakit, lebih dari 18 ribu dosis vaksin disalurkan, dan ribuan layanan pemeriksaan kehamilan tetap diberikan.
Selain itu, bantuan pangan juga terus didistribusikan dengan total lebih dari 8,4 juta makanan telah disalurkan kepada warga terdampak konflik.
Namun PBB mengingatkan kebutuhan kemanusiaan di Lebanon masih jauh lebih besar dibanding dana yang tersedia. OCHA menyebut baru sekitar 41 persen dana darurat yang berhasil terpenuhi untuk periode Maret hingga akhir Mei.
“Tanpa pendanaan penuh, layanan-layanan penting, seperti kesehatan, air, dan sanitasi, akan terganggu,” kata OCHA.


