Kuba Murka ke AS, Sanksi Baru Trump Disebut Picu Krisis Nasional

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Kuba melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat (AS) setelah Washington memberlakukan sanksi dan pembatasan ekonomi baru terhadap negara pulau tersebut. Havana menilai langkah terbaru pemerintahan Presiden Donald Trump telah membawa blokade ekonomi ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kuba pada hari Kamis mengecam keras sanksi dan pembatasan baru yang diberlakukan oleh AS, menuduh Washington meningkatkan blokade ekonomi terhadap pulau itu ke tingkat yang ekstrem dan belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis laporan Anadolu dikutip pada Jumat, (8/5/2026).

Kementerian Luar Negeri Kuba menegaskan pihaknya menolak penuh perintah eksekutif yang ditandatangani Gedung Putih pada 1 Mei. Kebijakan tersebut memperketat pembatasan ekonomi, finansial, dan perdagangan terhadap Havana.

“Pemerintah menolak perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Gedung Putih pada 1 Mei yang memperketat pembatasan ekonomi, keuangan, dan komersial terhadap Kuba,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Kuba.

Selain itu, Kuba juga mengecam keputusan Departemen Keuangan AS yang memasukkan perusahaan Kuba Gaesa dan MoaNickel SA ke dalam daftar sanksi khusus AS atau Specially Designated Nationals (SDN).

Menurut pemerintah Kuba, langkah tersebut menjadi awal dari penerapan kebijakan tekanan ekonomi yang lebih besar terhadap negara itu.

- Advertisement -

“Kementerian menggambarkan langkah tersebut sebagai ‘tindakan paksaan pertama’ yang berasal dari perintah eksekutif tersebut.”

Pemerintah Kuba menilai kebijakan terbaru Washington bukan sekadar sanksi biasa. Tapi, melainkan bentuk agresi ekonomi yang bisa berdampak luas terhadap negara-negara dan perusahaan asing yang memiliki hubungan bisnis dengan Kuba.

“Ini adalah tindakan agresi ekonomi yang kejam yang memperkuat efek ekstrateritorial dari blokade.”

Kuba menyebut sanksi sekunder berpotensi diterapkan terhadap perusahaan, bank, maupun entitas asing meskipun mereka tidak memiliki hubungan langsung dengan Amerika Serikat.

Menurut Havana, kebijakan tersebut dapat memperburuk kondisi ekonomi Kuba yang saat ini sudah berada dalam tekanan berat akibat keterbatasan pasokan bahan bakar dan gangguan listrik berkepanjangan. “Langkah-langkah baru tersebut mengancam akan memperdalam krisis ekonomi Kuba.”

Dalam pernyataannya, Kuba juga menuding pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, tengah berupaya mengisolasi Kuba dari komunitas internasional.

Pemerintah Kuba bahkan menyebut embargo Amerika Serikat sebagai bentuk ‘genosida’. “Pernyataan tersebut menggambarkan embargo AS sebagai ‘genosida terhadap rakyat Kuba.’”

Havana menilai kebijakan terbaru Washington sengaja diarahkan untuk memicu keruntuhan ekonomi, keresahan sosial, dan bencana kemanusiaan di negara tersebut.

“Kami mengecam sifat kriminal dari tindakan agresif ini yang bertujuan untuk membuat penduduk Kuba kelaparan dan putus asa.”

Kekhawatiran Kuba semakin meningkat setelah Donald Trump beberapa kali menyebut negara Karibia itu sebagai target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran. Pemerintah Kuba menilai Washington bisa saja menggunakan kondisi krisis kemanusiaan sebagai alasan untuk mengambil langkah yang lebih jauh.

“Kuba selanjutnya menuduh bahwa Washington dapat berupaya menggunakan krisis kemanusiaan sebagai pembenaran untuk ‘tindakan yang lebih berbahaya, termasuk agresi militer terhadap Kuba.’”

Situasi Kuba sendiri terus memburuk sejak embargo minyak AS diberlakukan pada 30 Januari. Krisis bahan bakar menyebabkan pemadaman listrik meluas di berbagai wilayah dan memperparah tekanan ekonomi yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Di tengah ketegangan itu, hubungan Havana dan Washington kini kembali berada dalam titik paling panas setelah bertahun-tahun mengalami pasang surut hubungan diplomatik dan ekonomi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU