Ekosistem Energi–Pangan Terpadu Jadi Kunci Model Bisnis Masa Depan

1 Shares

Namun demikian, Syam menekankan bahwa keberhasilan model ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut bahwa ekosistem energi–pangan terpadu tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai aktor, mulai dari pengembang energi, petani, peternak, lembaga keuangan, hingga pemerintah.

“Perusahaan seperti PT Gema Aset Solusindo tidak lagi berfungsi sebagai pelaku tunggal, tetapi sebagai platform integrasi—menghubungkan semua komponen dalam satu arsitektur nilai yang koheren,” tuturnya.

- Advertisement -

Dari sisi pembiayaan, pendekatan ini juga dinilai mengubah cara penilaian proyek energi. Syam menjelaskan bahwa kelayakan proyek tidak lagi hanya bergantung pada internal rate of return (IRR) listrik, tetapi juga pada total nilai ekonomi yang dihasilkan dari kombinasi sektor energi, pertanian, dan peternakan.

Hal ini membuka peluang bagi skema pembiayaan baru seperti green financing, blended finance, hingga impact investment yang mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

- Advertisement -

Lebih jauh, Syam menilai bahwa integrasi energi dan pangan memiliki implikasi strategis terhadap ketahanan nasional. Ia menjelaskan bahwa ketika ketiga sektor tersebut dibangun dalam satu sistem, maka ketahanan tidak lagi bergantung pada sektor tunggal, melainkan pada interaksi yang saling menguatkan.

“Ini adalah bentuk pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa implementasi konsep ini membutuhkan perencanaan yang matang dan presisi. Beberapa hal yang diperlukan antara lain peta spasial nasional yang terintegrasi, regulasi yang adaptif terhadap konsep penggunaan ganda lahan, standar teknis yang menjaga produktivitas, serta model kemitraan yang adil bagi masyarakat.

Pada akhirnya, Syam menegaskan bahwa target 100 GW PLTS bukan sekadar tantangan teknis, tetapi juga ujian dalam merancang sistem pembangunan yang lebih matang.

Jika kita tetap menggunakan pendekatan lama, maka angka sebesar itu akan memperbesar konflik ruang. Tetapi jika kita berani membangun arsitektur integrasi, maka angka yang sama justru menjadi katalis bagi lahirnya model ekonomi baru yang lebih cerdas, lebih efisien, dan lebih adil,” ujarnya.

Ia pun menutup dengan penekanan bahwa masa depan pembangunan tidak hanya soal peningkatan kapasitas energi, tetapi tentang bagaimana menciptakan keseimbangan antara energi, pangan, dan kehidupan.

“Dan di titik itu, pertanyaannya tidak lagi tentang bagaimana kita membangun lebih banyak energi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu menampung energi, pangan, dan kehidupan dalam satu keseimbangan yang utuh,” pungkas Syam Basrijal.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
1 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru