HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nama Ruud Gullit bukan sekadar legenda sepak bola Belanda, tetapi juga salah satu ikon terbesar dalam sejarah sepak bola Eropa. Kini, puluhan tahun setelah masa kejayaannya, Gullit kembali menjadi sorotan.
Mantan kapten Timnas Belanda di Euro 1988 itu jadi perhatian karena melemparkan pandangan tajamnya soal arah sepak bola Italia. Pria 63 tahun itu menyarankan agar Italia kembali ke akar permainan mereka.
Menurut dia, Italia identik dengan ciri khasnya yaitu pertahanan kuat ala catenaccio. Ia bilang Azzuri, julukan Timnas Italia tak cocok dengan gaya main tika taka.
“Anda harus kembali ke DNA Italia, yaitu pemain bertahan yang bagus, penjaga gawang yang bagus, dan penyerang yang bagus,” kata Gullit dikutip dari Football Italia, Rabu, (22/4/2026).
Gullit menganalisa kemunduran performa timnas Italia yang gagal lolos ke beberapa edisi Piala Dunia terakhir. Menurut dia, akar masalahnya adalah hilangnya identitas permainan khas Italia.
Gullit menyampaikan kekuatan utama Italia selama ini bukan pada permainan atraktif ala tiki-taka, melainkan pertahanan solid yang menjadi fondasi kejayaan mereka. “DNA Anda adalah pemain bertahan terbaik,” ujar eks pelatih Feyenord itu.

Dia mencontohkan era keemasan Italia yang ditopang pemain bertahan kelas dunia seperti Paolo Maldini, Fabio Cannavaro, dan Alesandro Nesta.
Rekam Jejak Gullit
Ruud Gullit lahir di Amsterdam pada 1 September 1962. Dia dikenal sebagai pemain serbabisa yang mampu bermain di berbagai posisi—dari gelandang, penyerang, hingga bek.
Julukan “Black Tulip” melekat padanya berkat gaya bermain elegan dan karisma di lapangan. Puncak kariernya terjadi saat memperkuat AC Milan pada akhir 1980-an.
Bersama dua kompatriotnya, Marco van Basten dan Frank Rijkaard, ia merupakan bagian dari trio legendaris yang membawa Milan merajai Italia dan Eropa.
Saat itu, Rossoneri meraih berbagai gelar di antaranya 3 gelar Serie A dan 2 trofi Liga Champions.
Gullit juga meraih Ballon d’Or 1987. Pengharagaan itu, ia dedikasikan untuk Nelson Mandela sebagai simbol perlawanan terhadap apartheid.
Di level internasional, Gullit merupakan kapten timnas Belanda saat menjuarai Euro 1988. Pencapaian itu adalah prestasi terbesar dalam sejarah sepak bola Belanda.
Gullit dikenal sebagai pemain dengan filosofi yang menggabungkan kekuatan fisik, teknik, dan kecerdasan taktik. Setelah pensiun, ia melanjutkan karier sebagai pelatih dan analis sepak bola, termasuk di Chelsea FC. Sebagai analis, pandangannya kerap tajam dan tidak selalu mengikuti arus tren modern sepak bola.
Karir sebagai pelatih, ia pernah menjadi nakhoda Newcastle United periode 1998-1999. Gullit juga tercatat pernah melatih Feyenord periode 2004-2005 dan LA Galaxy periode 2007-2008.


