JAKARTA, HOLOPIS.COM – Imam Besar Front Persaudaraan Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Shihab mengingatkan bahwa apa gerakan-gerakan yang berupaya untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebab gerakan tersebut ternyata berasal dari kelompok provokator.
Dalam konteks seruan penggulingan dan tuntutan agar seseorang mengundurkan diri sebagai Presiden adalah sah, sepanjang argumentasinya jelas dan memang murni untuk kepentingan rakyat, bukan karena menjadi bagian dari agenda politik kelompok tertentu saja.
“Ada tuntutan-tuntutan supaya presiden mengundurkan diri sah-sah saja, silakan mahasiswa minta presiden mundur, silakan. Yang penting berikan argumentasi yang bagus supaya rakyat bisa memahami argumentasi tadi,” kata Habib Rizieq di Petamburan, Jakarta Pusat dalam sebuah video yang dikutip Holopis.com, Minggu (19/4/2026).
Alasan mengapa perspektif ini penting agar jangan sampai para Mahasiswa dijadikan pioneer untuk menjalankan misi politik pihak tertentu, sehingga esensi dari gerakan Mahasiswa menjadi tidak murni lagi.
Hal ini disampaikan untuk merespons adanya seruan penggulingan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik Indonesia dari bos SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting), Saiful Mujani dalam sebuah forum halal bihalal para pengamat beberapa waktu lalu.
Menurutnya, seruan untuk menjatuhkan dan menurunkan Prabowo sebagai Presiden yang dinarasikan oleh Saiful Mujani patut diduga kuat bermuatan politik praktis. Karena FPI sangat memandang rekam jejaknya, di mana Saiful Mujani melalui lembaga surveinya pernah menjadi bagian yang disebut Habib Rizieq main proyek survei untuk kepentingan Jokowi di pemerintahan lalu.
“Tapi hati-hati dengan provokator. Saya lihat sekarang ada pimpinan lembaga survei yang kemarin jadi termul yang kemarin bela presiden yang lalu, habis-habisan jual angka, jual survei tahu-tahu sekarang teriak-teriak mau kudeta, siapa dia. Saya pikir mahasiswa, saya enggak akan sebutkan namanya,” tukas Habib Rizieq Shihab.
Seluruh anggota dan simpatisan FPI tidak akan percaya dengan apa yang disampaikan oleh Saiful Mujani, sekalipun apa yang ia sampaikan seolah masuk akal dan untuk kepentingan rakyat. Sebab jika merujuk rekam jejaknya dahulu yang dinilai FPI, SMRC sering membuat survei untuk proyek pencitraan Jokowi, jelas tak ada ruang bagi FPI untuk percaya apalagi sejalan dengan Saiful Mujani.
“Sudah tukang survei yang kemarin ngambil duit milyaran keuntungan, sekarang teriak-teriak mau kudeta, mau bergerak. Siapa yang percaya,” ketusnya.
Satu sosok lagi yang disinggung oleh Habib Rizieq adalah Islah Bahrawi. Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) tersebut menurutnya tidak kalah beda dengan Saiful Mujani. Di mana ia juga melihat rekam jejak dari sosok asal Madura tersebut yang pernah menjadi buzzer Jokowi di era pemerintahan Presiden RI ke 7 tersebut.
“Terus FPI disuruh percaya ada lagi satu lagi saudara penipu, pernah masuk penjara dengan pasal penipuan. Kemarin itu menjadi buzzer, orang habis-habisan anti betul dengan gerakan Islam ternyata sekarang juga bikin pernyataan, ayo kita gulingkan yaitu presiden Prabowo,” ujar Habib Rizieq.
Baginya, dua sosok tersebut murni provokator, sehingga ia mewanti-wanti agar Mahasiswa waspada pada gerakan tersebut, sehingga gerakan Mahasiswa tidak menjadi tunggangan politik kelompok tertentu dan malah merugikan ruang gerak mahasiswa sendiri.
“Tolong mahasiswa, yang begini jangan dijadikan rujukan, jangan dijadikan orator, jangan diundang. Yang begini-begini gerakan bahaya. Saya sebut mereka bukan orator, tapi provokator. Yang satu tukang survei yang kemarin jual beli survei ngambil keuntungan menipu gerakan Islam, yang kedua penipu,” tuturnya.
“Saya enggak mau adik-adik mahasiswa yang saya cinta yang saya sayang ditunggangi oleh orang-orang yang enggak jelas,” pungkas Habib Rizieq Shihab.


