HOLOPIS.COM, JAKARTA – Konflik bersenjata Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran ternyata meninggalkan jejak kematian dalam skala besar. Dari laporan sementara, lebih dari 3.400 jiwa melayang.
Data terbaru disampaikan oleh lembaga resmi pemerintah Iran, Yayasan Martir dan Urusan Veteran, yang mengungkap angka korban tewas jauh lebih besar dari perkiraan awal.
Kepala yayasan tersebut, Ahmad Mousavi, menyebut jumlah korban jiwa di Iran telah mencapai ribuan dalam konflik yang meletus sejak 28 Februari 2026.
“3.468 ‘martir; gugur selama konflik baru-baru ini,’ kata Mousavi dikutip dari The Strait Times dikutip pada Minggu, (19/4/2026).
Pernyataan itu disampaikan melalui kantor berita ISNA pada 18 April. Ribuan nyawa yang jadi korban mempertegas skala tragedi kemanusiaan yang terjadi di Iran.
Lonjakan Korban
Angka tersebut menunjukkan lonjakan dibandingkan laporan sebelumnya. Pada 12 April, Organisasi Kedokteran Forensik Iran mencatat 3.375 korban jiwa—angka yang kini telah terlampaui hanya dalam hitungan hari.
Namun, data dari lembaga independen memberikan gambaran yang bahkan lebih mengkhawatirkan. Kelompok pemantau berbasis di AS, HRANA, melaporkan jumlah korban lebih tinggi, menembus 3.600 orang.
Dari data itu, setidaknya 3.636 orang telah tewas termasuk 1.701 warga sipil. Korban jiwa antaranya 254 anak-anak serta 1.221 personel militer dan 714 orang yang statusnya belum diklasifikasikan.
Angka tersebut menegaskan bahwa dampak perang tidak hanya dirasakan militer, tetapi juga menghantam keras warga sipil, termasuk anak-anak.
Konflik AS-Israel vs Iran pecah pada akhir Februari 2026. Perang terjadi setelah serangan gabungan AS–Israel menghantam target di Teheran.
Iran tak tinggal diam dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan aset serta pangkalan militer AS di negara Teluk.
Dalam waktu singkat, eskalasi berubah menjadi perang terbuka yang meluas dan memicu serangan balasan.
Meski kini memasuki fase gencatan senjata sementara, jumlah korban yang terus diperbarui menunjukkan betapa intens dan destruktifnya pertempuran yang terjadi dalam periode singkat tersebut.
Di balik angka itu, terdapat satu persoalan besar yakni keterbatasan informasi. Akses jurnalis internasional ke lokasi serangan sangat dibatasi, membuat verifikasi independen menjadi sulit.
Kondisi ini diakui oleh berbagai media internasional yang tak dapat memastikan secara langsung jumlah korban di lapangan.
Akibatnya, perbedaan angka antara pemerintah Iran dan lembaga independen menjadi hal yang tak terhindarkan.

