HOLOPIS.COM, JAKARTA – OpenAI resmi menutup Sora, aplikasi pembuat video berbasis kecerdasan buatan (AI), hanya enam bulan setelah dirilis ke publik. Keputusan ini sempat menimbulkan berbagai spekulasi, termasuk dugaan bahwa aplikasi tersebut digunakan untuk mengumpulkan data pengguna.
Seperti yang dikutip Holopis.com dari Techcrunch, Senin (30/1), alasan penutupan Sora dilakukan karena aplikasi tersebut dinilai tidak berhasil menarik cukup pengguna dan justru menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan.
Setelah peluncuran awal yang cukup menarik perhatian, jumlah pengguna Sora sempat mencapai sekitar satu juta orang. Namun, angka tersebut kemudian turun drastis hingga kurang dari 500.000 pengguna di seluruh dunia.
Di sisi lain, biaya operasional Sora tergolong sangat tinggi. OpenAI disebut mengeluarkan sekitar 1 juta dolar AS per hari untuk menjalankan layanan tersebut. Tingginya biaya ini disebabkan oleh teknologi pembuatan video berbasis AI yang membutuhkan sumber daya komputasi besar.
Sementara itu, perusahaan lain seperti Anthropic justru berhasil menarik perhatian pasar, terutama dari kalangan pengembang perangkat lunak dan perusahaan besar. Produk mereka, Claude Code, disebut lebih banyak digunakan dan dinilai lebih menguntungkan.
Melihat kondisi tersebut, CEO OpenAI Sam Altman memutuskan untuk menghentikan operasional Sora. Langkah ini diambil untuk menghemat sumber daya komputasi dan mengalihkan fokus perusahaan ke produk lain yang lebih potensial.
Keputusan ini juga berdampak pada kerja sama bisnis. Perusahaan hiburan Disney, yang sebelumnya telah berkomitmen menginvestasikan 1 miliar dolar AS, dilaporkan baru mengetahui penutupan Sora kurang dari satu jam sebelum pengumuman resmi. Akibatnya, kerja sama tersebut batal.



