HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kepresidenan Palestina memperingatkan bahwa konflik yang terus berlangsung di Gaza serta meningkatnya kekerasan di Tepi Barat berpotensi memicu ketidakstabilan yang lebih luas di kawasan. Peringatan tersebut disampaikan pada Sabtu (28/3) melalui juru bicara kepresidenan, Nabil Abu Rudeineh. Ia menyoroti situasi yang dinilai semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, ratusan korban jiwa telah jatuh sejak diberlakukannya gencatan senjata di Gaza. Selain itu, pembatasan distribusi bantuan kemanusiaan turut memperparah kondisi warga sipil.
Abu Rudeineh juga menyinggung meningkatnya ketegangan di Tepi Barat. Ia menyebut aksi kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim terjadi di bawah perlindungan pasukan Israel. Ia pun mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat berdampak luas jika tidak segera ditangani.
“Tindakan yang tidak bertanggung jawab tidak akan membawa keamanan atau stabilitas,” ujar Abu Rudeineh, dikutip Holopis.com, Minggu (29/3).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konflik yang terjadi tidak akan terselesaikan tanpa pendekatan yang mengacu pada hukum internasional. Ia juga menekankan pentingnya mengacu pada resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta Inisiatif Perdamaian Arab.
Dalam pernyataannya, Abu Rudeineh mendesak komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, untuk mengambil langkah konkret. Ia meminta agar tekanan diberikan kepada Israel untuk menghentikan operasi militer, menerapkan gencatan senjata, serta membuka akses bantuan kemanusiaan.
Selain itu, ia juga menyerukan agar serangan yang dilakukan oleh para pemukim di Tepi Barat segera dihentikan.
Sekadar informasi, situasi di Gaza dan Tepi Barat dalam beberapa waktu terakhir terus menjadi perhatian dunia internasional karena berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.

