BI Ungkap Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Neraca RI Mulai Tertekan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gejolak geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran mulai berdampak pada stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Bank Indonesia (BI) menegaskan pentingnya memperkuat neraca pembayaran sebagai benteng utama menghadapi tekanan eksternal yang kian meningkat.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dinamika global, terutama konflik yang mendorong kenaikan harga energi dan ketidakpastian pasar keuangan, berpotensi mengganggu kinerja eksternal Indonesia.

“Neraca perdagangan pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 1 miliar dolar AS lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Desember 2025 sebesar 2,5 miliar dolar AS akibat perlambatan permintaan dunia terhadap ekspor non-migas,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Selasa, (17/3/2026).

Dia menjelaskan dari data terbaru menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menyusut. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan global terhadap komoditas ekspor non-migas, yang selama ini menjadi penopang utama surplus perdagangan.

Kondisi tersebut menjadi sinyal awal bahwa perlambatan ekonomi dunia mulai terasa dampaknya ke dalam negeri.

Arus Modal Mulai Berbalik

Di sisi lain, pergerakan arus modal juga menunjukkan dinamika yang perlu diwaspadai. Pada awal tahun, aliran modal asing masih mencatatkan kinerja positif.

- Advertisement -

“Aliran modal dan finansial pada Januari-Februari 2025 secara akumulatif mencatat net inflow sebesar 1,6 miliar dolar AS berkat topangan aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).”

Namun, situasi berubah pada Maret 2026 ketika terjadi arus keluar dana asing.

“Pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflow sebesar 1,1 miliar dolar AS yang dipicu peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah,” jelas Perry.

Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor global dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.

Cadangan Devisa Masih Aman

Meski tekanan eksternal meningkat, BI memastikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang kuat.

Per akhir Februari 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan pembiayaan lebih dari enam bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk meredam gejolak eksternal dalam jangka pendek.

Untuk ke depan, BI mewaspadai dua faktor utama yang bisa perburuk kondisi eksternal, yaitu perlambatan ekonomi global dan kenaikan harga minyak dunia.

Bagi dia, menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan naiknya harga minyak global perlu mendapat perhatian.

“Karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran defisit 0,9 persen sampai dengan 0,1 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto),” ujar Perry.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

YANG BARU