HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok pada perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3/2026), seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik akibat memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Berdasarkan data RTI Infokom yang dihimpun Holopis.com, indeks harga saham nasional itu tercatat dibuka di level 8.092,90. Namun semenit setelahnya, indeks semakin tertekan dengan koreksi 170,53 poin atau -2,07% ke posisi 8.064,94.
Pergerakan saham pada awal perdagangan hari ini didominasi tren negatif. Sebanyak 588 saham melemah, hanya 54 saham yang menguat dan 75 saham lainnya stagnan.
Dari sisi aktivitas transaksi, IHSG telah mencatatkan volume perdagangan sebesar 1,56 miliar lembar saham dengan frekuensi 144.998 kali transaksi. Adapun nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp1,02 triliun.
Tekanan jual terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.
Proyeksi IHSG Hari Ini
Tekanan geopolitik global kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan. IHSG diproyeksikan bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global, meski peluang tetap terbuka pada sektor berbasis komoditas.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menilai meningkatnya risiko geopolitik global menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar saham domestik.
“IHSG pekan ini berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi, dengan level support di 8.031 dan resistance di 8.437,” ujar Imam dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Holopis.com, Senin (2/3/2026).
Menurut Imam, eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, telah meningkatkan premi risiko di pasar keuangan global. Situasi tersebut semakin sensitif karena berkaitan dengan perkembangan di sekitar Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Ketidakpastian geopolitik ini dinilai berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak mentah dan gas. Kondisi tersebut biasanya diikuti dengan pergeseran aliran dana global ke aset-aset safe haven, seperti emas dan obligasi, yang pada gilirannya dapat menekan arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski dibayangi sentimen negatif global, Imam menilai dampak terhadap IHSG tidak sepenuhnya buruk. Kenaikan harga energi justru berpeluang menjadi katalis positif bagi sektor tertentu di pasar modal domestik.
“Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpotensi memperoleh manfaat dari sisi peningkatan harga jual rata-rata serta peluang perbaikan margin emiten,” ujarnya.
Dalam situasi global yang tidak menentu, saham berbasis komoditas kerap dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan inflasi global. Selama harga komoditas bertahan di level tinggi dan stabil, sektor ini dinilai dapat menjadi bantalan bagi pergerakan IHSG.
Namun demikian, Imam mengingatkan risiko lanjutan apabila lonjakan harga energi berlangsung terlalu tajam dan berkepanjangan. Kenaikan harga minyak yang signifikan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global serta memberi dampak terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak dapat memperlebar defisit neraca transaksi berjalan melalui peningkatan nilai impor migas. Di saat yang sama, volatilitas rupiah berpotensi meningkat, terutama jika disertai kenaikan imbal hasil obligasi global.
“Jika rupiah melemah dan yield global naik, volatilitas IHSG bisa meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko,” kata Imam.
Dengan demikian, arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara manfaat kenaikan harga energi bagi emiten komoditas dan potensi tekanan inflasi yang dapat mengganggu stabilitas makroekonomi nasional.



