HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sedikitnya empat orang dilaporkan meninggal dunia di Tunisia setelah negara Afrika Utara tersebut dilanda hujan terlebat dalam lebih dari tujuh dekade terakhir. Curah hujan ekstrem itu memicu banjir besar di sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Tunis.
Kantor berita pemerintah Tunis Afrique Presse melaporkan pada Selasa (20/1) bahwa hujan yang mengguyur Tunisia tercatat sebagai yang paling deras sejak 1950. Intensitas hujan tinggi dalam waktu singkat menyebabkan genangan luas, merendam permukiman warga hingga jalur transportasi utama.
Terpantau Holopis.com, sejumlah foto yang diambil di Tunis pada 20 Januari 2026 memperlihatkan dampak banjir yang melumpuhkan aktivitas kota. Kendaraan tampak terjebak dan melintas perlahan di jalanan yang tergenang air setinggi ban, memicu kemacetan panjang di beberapa ruas jalan utama.
Foto lainnya menunjukkan sebuah lemari es mengapung di tengah genangan banjir di kawasan perkotaan. Benda rumah tangga tersebut hanyut dari permukiman warga, mencerminkan kuatnya arus air yang melanda wilayah tersebut.

Selain itu, warga terlihat berjalan kaki menembus genangan banjir untuk beraktivitas atau menyelamatkan diri. Beberapa di antaranya membawa barang pribadi sambil berusaha menjaga keseimbangan di tengah air yang menutupi jalanan.
Hingga kini, otoritas setempat masih melakukan pendataan dampak banjir, termasuk jumlah korban dan kerusakan infrastruktur. Pemerintah Tunisia juga dilaporkan telah meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi hujan susulan, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi.

Banjir besar ini kembali menyoroti kerentanan wilayah perkotaan Tunisia terhadap cuaca ekstrem, sekaligus mempertegas tantangan yang dihadapi negara tersebut dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

