HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gejolak politik yang makin memanas membuat sektor ekonomi Iran ambruk. Mata uang rial Iran terhadap dollar AS dan Euro ikut terpuruk dan jadi terburuk dalam sejarah pemerintahan negara itu.
Kondisi Iran diguncang prahara politik sejak akhir Desember 2025. Insiden itu berawal dari Grand Bazaar Teheran, di tengah depresiasi tajam rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi.
Aksi demonstrasi yang berujung ricuh pun menyebar ke beberapa kota di seluruh negeri. Belum ada data terkait angka resmi korban jiwa dalam demo rusuh Iran.
Menurut laporan Anadolu berdasarkan sumber dari HRANA, kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, setidaknya 646 orang tewas. Angka itu termasuk dari pasukan keamanan dan massa pendemo. Pun, korban luka ditaksir lebih dari 1.000 orang.
“Kelompok tersebut juga melaporkan bahwa setidaknya 10.681 orang telah ditahan selama protes di 585 lokasi di seluruh negeri, termasuk 186 kota di seluruh 31 provinsi,” demikian dikutip dari Anadolu, pada Rabu, (14/1/2026).
Sektor ekonomi Iran anjlok di tengah eskalasi gejolak politik berdampak negatif terhadap nilai mata uang rial. Dari data x rates, 1 rial saat ini setara 0,000001 euro per 13 Januari 2026.
Kondisi itu membuat 1 euro bisa ditukar 1.271.396 rial. Angka itu dinilai jadi yang terburuk dalam sejarah negara Tanah Persia itu.
Pun, nilai rial terhadap dolar AS juga ambruk ke titik terendah. 1 rial saat ini setara dengan 0,0001 dolar AS. Inflasi di Iran terus terjadi dengan melewati 42 persen. Kondisi itu membuat harga pangan melonjak lebih dari 50 persen sehingga berdampak terhadap daya beli rakyat Iran.

Pedagang Pasar Melawan Rezim
Gejolak politik yang membuat ekonomi ambruk juga salah satunya dipicu para pedagang pasar Iran. Masyarakat kalangan pedagang selama ini merupakan tulang punggung keuangan sejak Revolusi Islam 1979.
Namun, masyarakat pedagang itu kini berbalik melawan rezim ulama yang sudah mereka bantu bawa ke tampuk kekuasaan. Kondisi itu memicu keresahan atas perekonomian karena demo anti-pemerintah yang besar-besaran.
Kondisi kalangan pedagang pasar yang frustasi terus meluas. Aksi masyarakat pedagang dari pemilik toko kecil hingga pedagang grosir besar yang ikut protes terus meningkat. Hal itu seiring dengan berkurangnya pengaruh politik dan ekonomi mereka di Iran selama beberapa dekade.
Para pedagang itu dicengkram elite Garda Revolusi yang berkuasa dengan perketat aturan untuk beri batasan.
“Kami sedang berjuang. Kami tidak dapat mengimpor barang karena sanksi AS dan karena hanya Garda Revolusi atau mereka yang terkait dengan mereka yang mengendalikan perekonomian. Mereka hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri,” kata seorang pedagang di Pasar Besar Teheran dikutip dari The Guardian.
Aksi demo rusuh dengan cepat membesar dan berubah menjadi gejolak politis. Demo ricuh itu menantang legitimasi Republik Islam Iran. Para pengunjuk rasa membakar gambar Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan meneriakkan “Matilah diktator”. Para pendemo direspons pasukan keamanan yang bersenjata, memakai gas air mata hingga pentungan.

