HOLOPIS.COM, JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah militer Amerika Serikat (AS) memperketat blokade di Selat Hormuz. Dalam langkah itu, AS mengklaim sedikitnya delapan kapal tanker minyak Iran dicegat dan dipaksa berbalik arah.
Mengutip laporan dari ND TV, pasukan angkatan laut AS menghentikan kapal-kapal tersebut melalui komunikasi radio tanpa perlu melakukan pemeriksaan fisik.
Para pejabat menyebut bahwa seluruh kapal Iran mematuhi instruksi yang diberikan. Hal itu menandakan kontrol penuh AS atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Salah satu kapal yang dihentikan adalah tanker Rich Starry, yang sebelumnya telah masuk dalam daftar sanksi AS. Kapal itu dikaitkan dengan perusahaan pelayaran asal Tiongkok.
Untuk mendukung operasi ini, AS mengerahkan lebih dari 15 kapal perang serta ribuan personel militer. Pengerahan itu termasuk Marinir dan pasukan operasi khusus, guna memastikan blokade berjalan efektif.
Langkah AS dilakukan setelah upaya negosiasi gencatan senjata antara Washington dan Teheran menemui jalan buntu. Presiden AS Donald Trump kemudian memerintahkan pemblokiran seluruh akses pelabuhan Iran di kawasan Hormuz.
Dalam strategi ini, militer AS tak hanya menghentikan kapal. Namun, juga bersiap melakukan pemeriksaan langsung terhadap kapal Iran yang mencoba melintas.
CENTCOM menegaskan bahwa operasi ini telah berjalan penuh dan berhasil menguasai jalur maritim di kawasan.
“Diperkirakan 90 persen ekonomi Iran didorong oleh perdagangan internasional melalui laut. Dalam waktu kurang dari 36 jam sejak blokade diterapkan, pasukan AS telah sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut,” demikian pernyataan CENTCOM
CENTCOM menekankan dengan blokade itu bisa berdampak langsung terhadap perekonomian Iran karene bergantung pada jalur laut.
Selain mencegat kapal tanker, militer AS juga melakukan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Dua kapal perusak rudal berpemandu dikerahkan untuk memastikan jalur pelayaran tetap aman bagi kepentingan strategis.
Sebelumnya, laporan media internasional menyebut Iran mengalami kesulitan dalam mengendalikan ranjau yang dipasang di kawasan tersebut. Kondisi itu memperumit situasi keamanan.

