Muhammadiyah Dinginkan Situasi soal Polemik Trans 7 dan Pesantren

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir memberikan respons atas polemik yang terjadi antara Trans 7 dengan Pondok Pesantren, khususnya Pondok Pesantren Lirboyo yang ramai belakangan ini.

Menurut Prof. Haedar, kasus tersebut seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak, baik media, lembaga keagamaan, maupun masyarakat umum, untuk saling introspeksi dan meningkatkan kualitas moral serta profesionalisme.

“Yang penting semuanya perlu belajar untuk saling menghargai, saling menjunjung tinggi, dan sekaligus semua pihak saling intropeksi diri. Bahwa kita berbangsa dan bernegara itu tidak bisa sehendaknya, berekspresi juga harus ada batasannya,” tegas Prof. Haedar dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Minggu (19/10/2025).

Orang nomor satu di organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut mengatakan, bahwa kebebasan berekspresi memang merupakan hak setiap warga negara. Namun, dalam kehidupan bermasyarakat, kebebasan tersebut tetap harus dibingkai oleh nilai kesantunan dan tanggung jawab moral, terutama agar tidak menyinggung atau merugikan pihak lain.

“Kita juga, lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keagamaan, harus terus meningkatkan kualitas agar memperoleh kepercayaan di masyarakat, sehingga bisa memberi sumbangan terbaik untuk bangsa dan negara,” tambahnya.

Prof. Haedar menegaskan bahwa setiap permasalahan sebaiknya diselesaikan melalui cara-cara damai dan dialogis, sesuai karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dan toleransi.

- Advertisement -

“Kalau ada masalah, diselesaikan dengan cara yang baik, sesuai karakter masyarakat Indonesia yang damai. Justru Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, dan perdamaian itu diuji di saat seperti ini. Jangan kemudian saling menjatuhkan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran media sosial yang kerap memperkeruh suasana saat muncul persoalan sensitif. Karena itu, Prof. Haedar mengingatkan agar warganet dan pelaku media digital ikut menahan diri dan tidak memperluas konflik dengan komentar yang provokatif.

“Kami harapkan juga media sosial harus cooling down kalau ada masalah. Jangan sampai istilahnya, kolamnya keruh tapi ikannya tidak dapat. Masalah selalu ada dalam kehidupan kebangsaan, tapi semuanya harus diselesaikan secara dewasa dan dalam koridor yang tepat,” pesannya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Muhammad Ibnu Idris
Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU