JAKARTA – Menteri ATR/BPN Nusron Wahid enggan mengakui adanya kesalahan dalam institusinya perihal isu jual beli pulau yang terjadi di beberapa provinsi.
Dalam pernyataannya beberapa waktu lalu saat RDP di DPR RI, Nusron Wahid menjelaskan sejumlah persoalan jual beli pulau.
“Pertama, permasalahan 4 pulau di Provinsi Aceh yang masuk Sumatera Utara kemarin. Alhamdulillah sudah selesaikan,” ucap Nusron dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Persoalan lainnya kemudian jual-beli pulau di Kabupaten Anambas maupun Kabupaten Sumbawa.
“Tiga dari 4 pulau antara lain Pulau Rintan, Pulau Tokongsendok, Pulau Mala, dan Pulau Nako yang diisukan dijual-belikan, telah dilakukan pemetaan satu pulau lengkap,” jelasnya.
Terhadap permasalahan tersebut, Nusron kemudian malah melempar tanggung jawab dan menyebut adanya kepentingan geopolitik dalam persoalan tersebut.
“Terhadap isu ini, maka kita aneh. Kok tiba-tiba ada isu jual beli atau penjualan pulau di situs online. Saya pakai logika sederhana. Yang berhak menjual itu adalah yang mempunyai barang. Lho, ini yang punya barang ini nggak menjual. Kok ada? Isu jual-beli ini, ini aneh menurut saya,” ujarnya.
Dia pun mengingatkan untuk berhati-hati dalam menyikapi isu jual beli pulau tersebut. Nusron lantas menduga ada keterkaitan geopolitik dengan isu tersebut.
“Saya yakin ‘ini tidak terpisahkan dengan konteks geopolitik’. Karena dilalah kok yang ditawarkan kok adalah kawasan-kawasan yang ‘krusial’. Contohnya Anambas ini berdempetan dengan Laut China. Kemudian, Pulau Sumbawa berdempetan dengan Australia, dan sebagainya,” jelasnya.
Menurut dia, isu jual beli tersebut dilakukan bukan hanya sekadar untuk main-main. Nusron menyebutkan situs online tersebut berada di luar negeri.
“Ini saya yakin dalam konteks ini tidak sekadar orang iseng atau orang yang main-main di dalam online itu, karena ini adalah online yang ada di luar negeri. Saya yakin ini tentunya ada kaitan geopolitik. Yang itu tidak mungkin bisa saya sampaikan di sini,” tuturnya.
“Dan mungkin yang punya otoritas itu tidak saya yang bisa menyampaikan itu. Tapi insting saya ya, sebagai aktivis maupun sebagai politisi, saya rasa-rasanya kok mengarahi ini ada kepentingan geopolitik yang lain,” tutupnya.


