JAKARTA — Kebijakan tarif impor tinggi yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membawa angin badai bagi dunia industri tanah air. Dengan beban tarif 32 persen untuk produk asal Indonesia, permintaan dari pasar AS diprediksi anjlok tajam.
Efek domino dari kebijakan itu bisa sangat serius—bahkan memicu badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan bahwa potensi korban PHK akibat kebijakan ini bisa mencapai 50 ribu pekerja.
“Industri kita akan mengalami kelesuan karena permintaan dari AS pasti turun. Ini bisa memicu gelombang PHK besar-besaran,” ujar Iqbal dalam konferensi pers, Minggu (6/4).
Satgas PHK Jadi Usulan Mendesak
Untuk mengantisipasi gejolak ini, Said Iqbal mengusulkan kepada pemerintah agar segera membentuk Satuan Tugas Khusus PHK yang terdiri dari Kementerian Ketenagakerjaan, DPR, serta perwakilan buruh.
“Satgas ini bertugas mencegah PHK, dan jika tetap terjadi, mereka harus memastikan hak-hak buruh tetap dipenuhi,” jelasnya.
Usulan ini menurut Iqbal sudah disampaikan langsung kepada Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, dan diharapkan segera direspons pemerintah.
Renegosiasi dan Deregulasi Jadi Strategi Tambahan
Selain Satgas, KSPI juga mendorong pemerintah untuk melakukan renegosiasi tarif dengan AS. Salah satu strategi yang disarankan adalah mengalihkan pembelian bahan baku industri dari AS alih-alih dari China atau Brasil, demi memperbaiki neraca dagang.
“Contohnya, pabrik tekstil yang biasanya pakai kapas dari Brasil atau China, bisa beralih ke kapas dari AS. Dengan begitu neraca dagang lebih seimbang, dan mungkin tarif bisa diturunkan,” ujar Iqbal.
Ia juga menyarankan agar pemerintah mempercepat proses deregulasi untuk menarik relokasi pabrik dari negara lain ke Indonesia. Menurutnya, banyak pabrik sepatu dari Vietnam dan investor dari China serta Taiwan yang tertarik pindah, selama regulasi di Indonesia lebih memudahkan.
“Kalau pemerintah bisa mempercepat deregulasi, Indonesia bisa jadi pilihan utama relokasi pabrik. Ini jadi momentum penting,” tutup Iqbal.


