Dukungan itu, kata Diki, tidak hanya datang dari perpustakaan. Orang tua, guru, sekolah, komunitas hingga berbagai pihak yang terlibat juga punya peran dalam menciptakan ruang tersebut.
“Sangat penting untuk memberikan motivasi, kepercayaan, dan bimbingan kepada anak-anak untuk menulis, baik terkait imajinasi, cerita realita, hingga keluh kesah mereka,” kata Diki.
Lewat Karya Raya 2026, karya anak-anak kini tidak hanya berhenti sebagai tulisan yang disimpan sendiri. Ribuan karya tersebut mulai diperkenalkan lebih luas melalui sekolah dan ruang publik.
Dengan jumlah karya yang terus bertambah setiap tahun, program ini juga membuka kesempatan bagi anak-anak untuk belajar menulis, berani bercerita, dan melihat bahwa karya mereka bisa dibaca orang lain.



