Sementara itu, dari sektor farmasi dan konsumer kesehatan, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memiliki target harga Rp970 atau potensi kenaikan sekitar 24 persen. Pertumbuhan bisnis distribusi dan produk konsumer kesehatan dinilai dapat menopang kinerja perseroan. Kiwoom juga mencatat valuasi KLBF berada di sekitar 9,4 kali forward price-to-earnings atau P/E, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis yang mencapai 16 kali.
Adapun saham terakhir dalam daftar pilihan Kiwoom adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dengan target harga Rp4.100 atau potensi kenaikan sekitar 26 persen. Pertumbuhan kredit BBNI diperkirakan tetap solid, sementara net interest margin atau NIM ditargetkan berada pada kisaran 3,5 hingga 3,8 persen pada 2026. Di sisi lain, loan to deposit ratio atau LDR sekitar 83,5 persen masih dinilai berada pada level yang sehat.
Kesembilan saham tersebut memperlihatkan bahwa strategi menghadapi September Effect tidak selalu berarti keluar dari pasar. Kiwoom justru melihat periode volatilitas sebagai kesempatan untuk mencari saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, dan katalis pertumbuhan yang jelas.
Pandangan tersebut sejalan dengan proyeksi Kiwoom yang masih mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 7.250 hingga 7.700. Artinya, tekanan pasar pada September lebih dipandang sebagai fase konsolidasi dalam tren kenaikan yang lebih besar.
Bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang, koreksi yang terjadi justru dapat membuka ruang untuk melakukan akumulasi secara bertahap, terutama apabila tekanan pasar membuat valuasi saham-saham berkualitas kembali berada pada level yang lebih menarik.
Namun, target harga tersebut merupakan proyeksi analis dan bukan jaminan keuntungan. Investor tetap perlu memperhatikan profil risiko, kondisi fundamental emiten, serta dinamika pasar sebelum mengambil keputusan investasi.



