KARAWANG – Sebuah video perpisahan siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mendadak viral di media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang siswa laki-laki menari dengan gerakan gemulai dan ekspresif, yang kemudian menuai berbagai tanggapan dari warganet, termasuk komentar bernada negatif.
Video berdurasi singkat itu memperlihatkan siswa tersebut menari di hadapan teman-teman sekelas dan guru dalam acara perpisahan sekolah. Namun, ekspresi dan gaya tari siswa itu justru memicu komentar miring dari sejumlah pengguna media sosial, yang mempertanyakan ekspresi tubuh sang anak dan bahkan menuding adanya perilaku menyimpang.
Menanggapi viralnya video tersebut, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Karawang langsung memanggil pihak sekolah untuk melakukan klarifikasi pada Selasa (10/6). Klarifikasi dilakukan guna memastikan bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan nilai-nilai pendidikan.

“Awalnya, guru menunjuk salah satu siswi untuk menjadi model tari, namun ia merasa malu. Siswa laki-laki itu justru menawarkan diri karena merasa percaya diri dan memang memiliki bakat menari,” ujar Nunung, seperti dikutip Holopis.com.
Terkait komentar negatif dari warganet, Nunung menegaskan bahwa siswa tersebut merupakan anak yang aktif, ceria, dan bersosialisasi seperti anak laki-laki pada umumnya.
“Anaknya normal, senang bermain layangan dan aktif di kegiatan sekolah. Ia hanya terlihat lebih luwes dan ekspresif saat menari, karena memang memiliki ketertarikan di bidang itu,” tambahnya.
Pihak sekolah juga telah berdialog dengan orang tua siswa yang bersangkutan. Mereka menyatakan tidak mempermasalahkan viralnya video tersebut dan justru mendukung bakat anak mereka.
Kasubag Umum dan Kepegawaian Disdikpora Karawang, Joean Himawan, menekankan pentingnya peran sekolah dalam membimbing dan menyalurkan minat serta bakat siswa ke arah yang positif.
“Jika memang ada siswa yang berbakat menari, maka perlu diarahkan ke kegiatan yang sesuai, seperti lomba tari tradisional atau modern. Penyaluran bakat harus tetap berada dalam koridor edukasi,” ujarnya.



