HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba di Beijing untuk menjalani pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan dua pemimpin negara adidaya itu terjadi di tengah situasi global yang semakin tidak menentu.
Pertemuan yang sangat dinantikan dunia itu berlangsung saat geopolitik internasional berada dalam tekanan besar akibat perang Iran. Selain itu, ketegangan perdagangan global, perlombaan kecerdasan buatan, hingga konflik sensitif terkait Taiwan.
Bagi Trump, lawatan ini bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Kunjungan tersebut datang di saat posisi politiknya di dalam negeri mulai tertekan akibat dampak perang AS-Israel melawan Iran yang memicu kenaikan inflasi dan ketidakpastian ekonomi AS.
Karena itu, Trump disebut berusaha membawa pulang kemenangan politik dengan mendorong kesepakatan ekonomi besar bersama China. Hal itu terutama pembelian produk pertanian dan pesawat buatan AS.
Presiden AS itu bahkan mengakui isu perdagangan akan menjadi fokus utama pembicaraannya dengan Xi Jinping.
Di saat bersamaan, Senat AS juga baru mengesahkan Kevin Warsh sebagai pimpinan baru Federal Reserve. Langkah itu penting di tengah kondisi ekonomi global yang rapuh.
Kunjungan Trump ke China ini menjadi lawatan presiden AS pertama ke Negeri Tirai Bambu dalam hampir satu dekade terakhir.
Namun pertemuan kali ini berlangsung jauh lebih rumit dibanding era sebelumnya. Sebab, kondisi dunia saat ini sedang menghadapi kombinasi konflik militer, perang dagang, dan revolusi teknologi secara bersamaan.
Ada lima isu besar yang diperkirakan mendominasi pertemuan antara Trump dan Xi Jinping:
Iran dan Ancaman Krisis Energi Dunia
Trump disebut ingin China ikut menekan Iran agar membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan pembicaraan damai.
Selat Hormuz menjadi jalur vital perdagangan energi dunia dan sangat penting bagi China karena hampir setengah impor minyak mentah Beijing melewati kawasan tersebut.
China sendiri dinilai berada dalam posisi sulit. Di satu sisi Beijing ingin stabilitas kawasan terjaga, tetapi di sisi lain AS baru saja menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan China yang dituduh membantu ekspor minyak Iran dan memasok citra satelit untuk operasi militer Teheran.
Tuduhan itu langsung dibantah pemerintah China.
Kedatangan Trump ke Beijing juga terjadi hanya beberapa hari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan ke China.
Taiwan Kembali Jadi Bom Waktu
Isu Taiwan dipastikan menjadi salah satu pembahasan paling sensitif.
Trump sebelumnya menyetujui paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan, yang menjadi paket bantuan militer terbesar dalam sejarah hubungan AS-Taiwan.
Meski pengiriman senjata belum dilakukan, Beijing tetap menganggap langkah tersebut sebagai ancaman serius.
China diperkirakan akan mendesak Washington mengubah sikap resminya terkait Taiwan, terutama soal istilah “tidak mendukung kemerdekaan Taiwan” yang ingin diubah Beijing menjadi sikap “menentang kemerdekaan Taiwan”.
Mantan pejabat Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS, John Kirby, mengingatkan bahwa pembahasan Taiwan sangat berisiko jika Trump berbicara di luar naskah.
“Mereka harus sangat tepat ketika berbicara tentang Taiwan karena, terus terang, taruhannya sangat tinggi.”
Perang Dingin Baru di Bidang AI
Selain geopolitik, Amerika Serikat dan China kini juga terlibat persaingan keras dalam teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Washington menuduh China mencuri kekayaan intelektual laboratorium AI Amerika dalam skala besar, sementara Beijing balik mengecam pembatasan ekspor chip AI canggih dari perusahaan NVIDIA ke China.
Para analis berharap Trump dan Xi dapat membahas pedoman keamanan AI global untuk mencegah penyalahgunaan teknologi tersebut di bidang militer.
Kekhawatiran terbesar dunia saat ini adalah munculnya perlombaan senjata berbasis AI yang berpotensi memicu konflik baru.
Perang Dagang Belum Benar-benar Selesai
Hubungan dagang AS-China juga masih dipenuhi ketegangan.
Trump sebelumnya pernah memberlakukan tarif lebih dari 140 persen terhadap produk China. Namun Beijing membalas dengan memblokir ekspor mineral tanah jarang dan magnet penting ke Amerika Serikat.
Langkah itu menjadi pukulan bagi industri pertahanan AS karena banyak komponen persenjataan Amerika bergantung pada rantai pasok mineral dari China.
Sebagai jalan tengah, China diperkirakan akan menawarkan pembelian pesawat Boeing, produk energi, serta komoditas pertanian Amerika.
Sebagai gantinya, Beijing ingin AS melonggarkan pembatasan ekspor semikonduktor dan membuka peluang investasi yang lebih besar di Amerika.
Fentanyl dan Politik Dalam Negeri Trump
Isu narkotika fentanyl juga masuk agenda utama Trump. Pemerintah AS selama ini menuduh sejumlah perusahaan China memasok bahan kimia prekursor kepada kartel narkoba Meksiko yang kemudian memproduksi fentanyl ilegal untuk pasar Amerika.
Trump diyakini akan menggunakan isu tersebut untuk menunjukkan sikap keras terhadap China di hadapan basis pendukung MAGA menjelang dinamika politik domestik berikutnya.
Namun para analis menilai posisi tawar Trump dalam isu ini mulai melemah. Sebab, posisi Washington tetap membutuhkan kerja sama Beijing di tengah berbagai krisis global yang sedang berlangsung.



