Yang tak kalah ambisius, pemerintah menargetkan kemiskinan ekstrem bisa mencapai nol persen.
Ferry mengatakan pemerintah juga berharap tingkat pengangguran terbuka dapat ditekan, sementara kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat.
“Kami juga berharap tingkat pengangguran terbuka menurun, indeks modal manusia meningkat, indeks kesejahteraan petani, proporsi penciptaan lapangan kerja formal, dan indeks kualitas lingkungan hidup meningkat,” imbuh dia.
Dengan begitu, dampak belanja negara diharapkan tidak hanya terlihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tercermin pada indikator kesejahteraan masyarakat.
Defisit Fiskal Ditarget 2,40 Persen
Meski belanja negara meningkat, pemerintah tetap memasang batasan agar kondisi fiskal tetap terjaga.
Dalam RAPBN 2027, defisit fiskal ditargetkan sebesar Rp671,2 triliun, atau setara 2,40 persen terhadap PDB.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan outlook APBN 2026 yang diperkirakan mencapai 2,85 persen terhadap PDB.
Ferry menegaskan pembiayaan defisit akan dilakukan secara hati-hati. Pemerintah akan mempertimbangkan diversifikasi sumber pembiayaan sekaligus menjaga agar pengelolaan utang tetap berkelanjutan.
“Kami berharap pembiayaan defisit anggaran ini akan dilakukan secara prudent, inovatif, dan berkelanjutan melalui pengeluaran utang yang hati-hati,” katanya.
Dengan desain tersebut, pemerintah ingin RAPBN 2027 tetap ekspansif untuk mendorong ekonomi, tetapi tidak mengorbankan kesehatan fiskal. Tantangannya adalah memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar menghasilkan manfaat yang terasa bagi masyarakat.



